04 November 2015

Siapa Tau Kita Menang

Seharusnya, post ini gue publish semalem. Berhubung gue ketiduran, jadilah baru post hari ini. Plus, kondisi tubuh gue yang lagi nggak fit membuat gue nggak sempet nyentuh laptop. Benar sodara-sodara, gue sedang sakit. Makanya, hari ini gue nggak sekolah. Ini aja baru pulang berobat.

Sama seperti nasib post ini, seharusnya gue berobat kemarin siang. Berhubung tidurnya pules banget, gue baru bisa berobat pagi ini. Emang ya, kalo lagi sakit apa aja serba tertunda.


***

Sebelumnya gue pernah bilang kalo gue lagi ada di acara Bulan Bahasa. Klik di sini.

Hari Kamis tanggal 29 Oktober 2015, gue sedang berada di kursi paling belakang acara puncak Bulan Bahasa. Mendengarkan MC sedang mengumumkan pemenang lomba drama. Ngomongin tentang lomba drama, kelas gue juga ikut. Tepatnya 3 hari sebelum acara puncak.

Sejak jauh hari, gue udah menyiapkan konsep untuk drama yang mau ditampilkan nanti setelah gue ditunjuk sebagai penulis naskah drama. Ya, untuk kali ini, gue nyoba jadi penulis naskah drama. Tenang, di sini nggak ada adegan ciuman kok.

Tema drama yang diangkat adalah tentang anti-korupsi. Waduh, gue nggak tau apa-apa soal anti-korupsi.
Untuk memecah kebuntuan, gue nyoba browsing. Kayaknya seru nih kalo gue bikin anti-korupsi di lingkungan sekolah. Lagian gue nggak ngerti soal korupsi yang ada di pemerintahan besar atau perusahaan.

Tema udah gue dapat. Gue langsung konsultasi ke temen-temen yang ikut drama. Semua juga setuju. Saatnya nulis!

Dalam menulis naskah, gue dibantu Wahyu, temen gue yang punya ide liar. Dia yang paling antusias begitu mendengar kalo di drama nanti ada adegan jotos-jotosan

"Lu kan meranin anak bandel, gimana kalo ada adegan pukul-pukulan?"
"Adain dong. Nanti gue yang nonjok kan?"
"Iya"
"Yes"
"...."

Kenapa dia seneng banget? Mau drama atau niat mencelakakan orang lain?

Setelah naskah selesai, barulah masuk ke latihan pertama (dan terakhir). Walaupun setelah latihan pertama masih ada latihan lagi, gue ngerasa latihan selanjunya nggak serius. Paling calon-calon nggak jadi tampil ini mah.
Biar lebih menjiwai, temen-temen membawa adegan di drama ke kehidupan nyata. Contohnya, ketika gue dan temen-temen ngumpul, Giyats datang ala adegan drama

"Hai, bro." Kemudian Giyats tos-tosan dengan kami. Ini sesuai dengan adegan drama scene 2. Oke, teman-teman gue mulai menganggap sungguhan drama ini.

***

Begitu hari H lomba, kami mulai nggak yakin dengan drama kami. Banyak alasan kami nggak yakin dengan drama ini. Pertama, kami kurang latihan. Kedua, kurang latihan. Ketiga, emang kurang latihan. Intinya, kami minim persiapan dan latihan. Pokoknya, gue nggak mau tampil drama.

Jam 2 ada pengundian nomor tampil. Gue kira, nggak ada yang nomor undian. Ternyata, Seila--teman gue yang ikut drama--udah turun ke bawah ngambil nomor undian.

"Kenapa lu ambil sih," protes gue
"Lagian tadi gue tanyain nggak ada yang jawab"
"Kabur aja mendingan. Belum siap weh"
"Lanjut aja sih. Anak kelas 11 yang ikut drama cuma kelas kita." Seila ngotot buat lanjut terus.

Gila! Satu angkatan kelas 11 cuma kelas gue yang ikut lomba drama. Kelas gue sangat diharapkan oleh angkata kelas 11. Eh, nggak segitunya juga sih.

"Ayolah. Gue nggak enak sama Diki (ketua OSIS yang sekelas sama gue). Masa kelasnya sendiri nggak tampil."
"Tapi, belum siap, Sei."

Perdebatan ini membawa kita sampai pada giliran kita tampil. 2 menit sebelum tampil, Giyats dan Eza masih belum ngumpul. Ini makin membuat kami semua nggak yakin dengan drama ini. Begitu mau masuk ruang Auditorium, barulah dua kampret ini nyamperin kita.

Kami saling meyakinkan satu sama lain. "Intinya kita seneng-seneng aja. Nggak usah mikirin menang. Pasti kita kalah, yang lain propertinya bagus-bagus. Sedangkan kita, nggak pake properti."

Kenyataannya emang bener, kelas lain pake properti yang keren-keren. Ada yang pake baju hakim, ada yang bawa pistol (kayaknya bukan pistol beneran), ada yang pake kemeja. Sedangkan kelas gue, cuma pake seragam putih-putih, seragam biasa hari Senin. Udah. Satu-satunya properti yang nolong adalah topi dan gitar yang Wahyu bawa. Oh iya, plus lipstick yang udah ditempelin di tangan Giyats. Ceritanya sebagai memar sehabis kena pukulan.

Begitu kami tampil, semua terasa lancar. Saking lancarnya, nggak terasa kapan pindah adegan. Seharusnya, di adegan, gue diajak bolos oleh Wahyu. Tapi, malah ditambah dengan dialog-dialog lain. Pokoknya kacau.
Semuanya dilakukan dengan improvisasi. Untungnya dari improv yang kami lakukan masih nyambung jalan ceritanya di skenario.
Adegan berantem yang dilakukan Wahyu melawan Giyats melebihi apa yang gue tulis di skenario. Dia lebih menghayati pukulan. Sedangkan Giyats sebagai orang yang kena pukul sangat natural jatuhnya. Juri menggelengkan kepala. Entah menikmati atau bingung dengan apa yang kami perbuat.

Drama yang kami tampilkan selesai dengan waktu 15 menit. Melebihi 5 menit yang telah disediakan. Padahal sebelumnya gue dapet info tentang lomba drama, waktu yang dikasih adalah 10-15 menit. Artinya, gue udah pas dalam syarat waktu. Tapi, kenapa tiba-tiba dibilang lebih 5 menit? Bodo amat deh. Yang penting gue seneng, tanpa beban nyelesein drama.

***

3 hari kemudian dalam acara puncak Bulan Bahasa, diumumkan pemenang-pemenang lomba, termasuk lomba drama. Kali ini, gue sedang mendengarkan pengumuman lomba drama. Dengerin aja dulu, siapa tau menang, kata gue bercanda.

"Juara 2 diraih oleh... Kelas 11 MIPA 1"

"Anjrit, itu kelas gue!" Gue menepuk paha, kaget. Ternyata candaan gue jadi kenyataan. Di depan sana udah ada Wahyu nerima hadiah. Mantap, lah!

Lalu bagaimana kabarnya dengan kelas yang pake properti super ribet? Ada yang dapet juara, ada yang nggak. Gue malah kasian dengan kelas yang udah pake properti dan capek-capek latihan, ternyata harus menerima kenyataan kalah dengan kelas yang jarang latihan dan tanpa properti. Iya, kelas gue. Tapi, nggak papa untuk kelas yang belum menang. Kalian tetep hebat, kok. Cuma belum efektif aja usaha kalian :p

Biar dikira nggak hoax, gue kasih fotonya deh.

3 bulan ke depan rambut ini tidak akan tumbuh
PS: Mungkin untuk ke depannya di setiap post akan diawali dengan bahasan singkat, cerita singkat, atau kejadian sebelum post ditulis. Barulah masuk ke bahasan utama. Ini karena gue mulai sering menemukan kejadian singkat yang sayang kalo nggak ditulis. Kayak awalan di post ini...

GWS-in dong :(

4 comments:

  1. Semoga cepet sembuh ya Rob

    Properti yang bagus gak menjamin jadi juara drama Rob, yang penting jalan cerita sama akting setiap pemeran'a

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih ya~

      Iya, faktor adegan jotos-jotosan kayaknya termasuk juga :D

      Delete
  2. Ciee yg sakit.. Loh, kok malah diciein sih?._. Ralat, GWS Robb!! :D

    Kelas lu mantep bener, Rob, jarang latihan tp menang. Mgkin anak2 kls lu emg udh pada mendalami perannya msing2 kali, aktingnya jg bagus2, Ceritanya jg oke tuh Rob, tntng korupsi di sekolah gtu. Hebat banget deh pnulis naskahnya! Siapa sih yg nulis??! Wkwkwk.

    Trutama akting temen lu yg lg nabokin temen lu yg satunya tuh, kyaknya dia emg pnya dendam pribadi deh ya? Haha.
    Oh iya Rob, udh lama nih gue pgn ngmong ini...... Font nya bsa agak digedein dikit gak? Font nya trlalu mini buat mata gue, Rob. Huehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, makasih makasih. GWS itu artinya Ganteng Wangi Sexy, kan? Makasih banget, lho.

      Gue rasa mereka punya bakat akting yang keren. Harusnya mereka ikut main di GGS Return ya? Hehehehe

      Hmmm, saran ditampung. Tinggal nyari gimana caranya. Makasih lagi deh~

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.