Tentang Kematian

thumbnail-cadangan
Sewaktu gue menulis post ini, gue sedang berada di sekolah menyaksikan acara Bulan Bahasa. Kepala sekolah sedang memberi kata sambutan. "Ah, momen yang ngebosenin," kata gue. Gue bener-bener merasa bosen. Apalagi gue sedang duduk di posisi paling belakang, tanpa ada orang yang gue kenal buat diajak ngobrol. Sebelah kiri gue ada anak kelas 12. Pengen gue ajak ngobrol, tapi nggak kenal. Sebelah kanan gue, cuma ada pohon. Masa iya gue ajak ngobrol. Akhirnya gue memutuskan ngambil handphone.
Ketika menekan tombol on, gue ingat sesuatu. Ah iya! Gue punya draf tulisan di blog. Selesein, ah~

Gue langsung buka aplikasi Blogger. Tek... tek.. tek, gue ngetik dengan lihai. Gue benar-benar menikmati kesendirian dalam keramaian ini. Kenikmatan itu tiba-tiba pecah setelah ada tepukan kecil di pundak gue.

"Lagi bales BBM, ya?"
Gue melirik ke belakang. Oh, ternyata dia Pak Rudi, guru Matematika gue.
"Bukan, Pak. Ini..." gue memikirkan sejenak apa yang harus gue katakan. Di sini, gue harus menjawab jujur. "... lagi nulis cerita."
"Cerita porno, ya?"
"...." gue kebingungan. Baru aja kena pertanyaan yang kayak gitu. Buru-buru deh gue klarifikasi kejadian sebenarnya. "Bukan, Pak. Ini cerita kehidupan saya. Pengalaman pribadi"
"Oooh.."

Huh... hampir aja gue dikira penulis cerita porno yang berkedok pelajar. Hampir aja gue mengganti judul blog menjadi Catatan Nakal Pelajar Binal.

Hampir.

***

Gue selalu merinding setiap kali mendengar kata kematian. Apa pun pembicaraan yang berbau kematian gue selalu menghindarinya. Kecuali kalo gue lagi di majelis atau khotbah sholat jumat, gue pasti siap mendengar. Nggak mungkin gue kabur, atau minta ganti tema ke khotib.

Seolah jadi hal yang sensitif bagi gue mendengar hal-hal kematian. Kecuali berita kematian yang ada disiarin di televisi atau koran. Semakin dekat hubungan gue dengan seseorang yang meninggal, gue makin merinding.

Sekitar 3 tahun yang lalu, ketika gue mau berangkat sekolah, handphone bapak gue berdering. Bapak gue bangun dari tidur, mengangkat telepon. Kemudian
"Waalaikumsalam," jawab bapak gue, menjawab salam dari suara di seberang sana.
"Innalillahi," kata bapak gue, kaget.

Gue ikut kaget. Ada apa ini sebenernya?

"Yo, wes. Nanti aku mangkat."

Mama gue bertanya, "Kenapa, Pak?"

"Mbah putri meninggal."
"Innalillahi." Mama menutup mulutnya, kaget tak percaya.

Gue terdiam. Kepalang tanggung udah pake seragam sekolah, gue lanjut berangkat sekolah. Kakak gue ikut Bapak pulang kampung.

Di sekolah, gue nggak konsen belajar. Tiap lembar buku yang gue buka, selalu muncul bayangan Mbah putri (atau nenek). Kebaikan beliau kepada gue, ketika beliau mencium kening gue yang baru turun dari ojek, juga ketika beliau sedang membungkus tempe. Ya, beliau adalah penjual tempe di kampung. Setiap gue pulang ke kampung, pasti dibawain tempe buat dibawa ke Jakarta. Konon, tempe buatan beliau bisa bikin gue gagal move on suasana kampung.

3 tahun itu berlalu, gue baru sekali ziarah ke makamnya. Ketika membacakan Surat Yasin, gue nggak tahan ngeluarin air mata. Betapa kehilangannya gue, masih belum bisa merelakan kepergian beliau.

***

Kematian itu datang kembali, menjemput orang yang lumayan dekat dengan gue.

Senin subuh, sekitar jam setengah 5, gue terbangun dari tidur. Biasanya, gue baru bangun jam 5, itu pun dengan bantuan alarm. Tapi, kali ini speaker masjid membangunkan gue.

"Cek.. cek"
Mata gue masih setengah terbuka. Ah, paling orang adzan, tidur lagi aja, deh. Udah biasa kayak gitu, batin gue. Tapi, gue tetap nggak bisa tidur. 
"Innalillahi wa innailahi rojiun,"
Waduh, siapa nih yang meninggal? Paling orang jauh, pasti gue nggak kenal. Gue masih berusaha tidur lagi.
"Telah meninggal Bapak Ustad Hasanudin Kamal pada jam 3 pagi."
Gue terbangun. Masih nggak percaya orang yang disebutkan tadi adalah sosok yang gue kenal.
"Sekali lagi, Innalillahi wa innailahi rojiun, telah meninggal Bapak Ustad Hasanudin Kamal pada jam 3 pagi."

Gue bener-bener bangun. Gue duduk dan terdiam. Beberapa kali gue menghela napas, tapi nggak kuat. Mata gue basah, membendung air mata yang hendak keluar. Gue sangat shock dengan kabar yang seseorang sampaikan lewat speaker masjid pagi ini.

Antara gue dengan Ustad Hasanudin Kamal memang nggak ada ikatan saudara, tapi gue sangat berat hati dengan kematiannya. Beliau adalah guru dari guru ngaji gue Jadi, ibarat di silsilah keperguruan, beliau adalah kakek gue. Sesekali gue pernah diajar beliau ketika guru gue nggak bisa hadir.

"Tong, engkong mah udah tua. Lu-lu pada yang bener ngajinya. Jangan males-malesan ngaji." Gue ingat betul kata-kata itu. Kata-kata yang Engkong (sebutan akrab dari beliau) berikan ke gue dan teman-teman ketika Engkong ngajar kami ngaji.

Nggak jarang, ketika kami pulang ngaji, bahan candaan favorit kami adalah ngomongin Engkong. Karena kepikunannya yang sering nanya di mana rumah gue, membuat kami selalu tertawa setiap ngomongin itu. (Gue sempat menulis tentang beliau di postingan ini)

Sebulan yang lalu, gue sempat duduk berdekatan dengan Engkong di selametan tetangga gue. Gue senang bisa ngebantu beliau saat itu. Ternyata, itu adalah kali terkahir gue bisa bertemu Engkong.
Kini, nggak ada lagi yang bakal nanya-nanya ke gue setiap kali gue ke mushola. Orang yang gue hormati, telah tiada. Ajaran-ajaran beliau akan terus gue ingat dan gue kerjakan.

Sambil membaca ulang post ini, gue merenungi cerita orang yang gue sebut di atas. Dua orang yang gue sebutkan di atas adalah orang yang meninggal di usia tua. Lalu bagaimana dengan anak muda seperti gue, yang kadang merasa hidupnya aman-aman aja?

Cepat atau lambat, pasti kita akan menemui kematian. Setiap kali ada ceramah mengenai kematian gue selalu ingin cepat tobat dan rajin ibadah. Tapi, setelah itu, gue merasa "ah, mana mungkin gue meninggal sekarang. Gue masih muda. Umur gue panjang."

Namanya umur siapa yang tau. Nggak ada yang tau kapan kematian itu datang. Semua harus siap jika waktunya tiba. Gue takut kematian menjemput gue pada kondisi yang nggak "seharusnya", misalnya maksiat. Pasti bakal tersiksa. Ralat. Maksudnya sangat tersiksa.

Ah, gue makin merinding ngomongin soal kematian.


9 komentar:

  1. Turut berduka Rob.

    Gue juga takut banget kalo lagi cerita tentang kematian, bawaannya pengen sholat mulu. Tapi, kematian, kehilangan, dan perpisahan tidak akan bisa kita hindari, mereka bertiga bertiga tepat disamping kita~

    ReplyDelete
    Replies
    1. :'(

      Iya, cuma nunggu waktu kedatangan mereka.

      Delete
  2. Turut berduka ya. Terkadang kematian emang sengaja kita sembunyiin buat dilupain dari dunia ini ya. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, bang. Kita menolak ingat akan kematian :'(

      Delete
  3. iya, bukan merinding saja, suka deg2 ser aneh gt, ngeri, takut, blm siap,

    ReplyDelete
  4. Walaupun bukan siapa-siapa, gurunya guru ngaji itu sudah memberikan banyak manfaat untuk lu, Rob. Walaupun lewat perantara dari guru ngaji lu. Semoga nanti lu juga bisa memberikan ilmu itu, ya. :))

    Ngomong-ngomong soal yang masih muda aman-aman aja, adik gue yang baru mau lahir malah meninggal 2 tahun lalu. Dia belum sempet melihat dunia. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, biar ilmu dari almarhum terus mengalir

      Innalillahi wa innailaihi rojiun :")

      Delete
  5. tumben rob bisa bikin cerita sedih

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.