06 October 2015

Beda Dialog Dalam Kondisi yang Sama

Makin ke sini, gue ngerasa makin banyak perubahan dalam hidup. Seperti perubahan pola kehidupan, kebiasaan masa lalu yang berganti jadi lebih serius, dan singlet-singlet yang harus diganti karena udah nggak muat. Dari banyaknya perubahan yang ada, gue merasakan ada beberapa perbedaan dialog... pada kondisi yang sama.

Sederhananya, ketika kita nyamper teman buat main bareng.
Dulu, ketika kecil, pasti di antara kita ada yang pake cara ini: datang ke rumah teman - berdiri di depan pintu - manggil nama teman sambil teriak-teriak "MAIN YUK! MAIN YUK!"

Sekarang (ketika dewasa), nggak mungkin lagi pake cara itu. Selain dianggap nggak sopan, juga pasti dianggap orang gila yang berkeliaran ke pemukiman.
Akhirnya, kita pake cara lebih sopan: datang ke rumah teman - berdiri di depan pintu - ketuk pintu  rumah - pintu dibuka - teman kita nyuruh masuk - disuruh duduk - manggil nama pembantu sambil teriak "KOPI! KOPI, MANA KOPI?!"

Abis itu, disirem pake kopi panas. Badan langsung melepuh.

Itu contoh karangan buatan gue. Contoh nyatanya, ketika gue sedang makan malam bareng orangtua.

Momen ini, biasanya diisi oleh obrolan-obrolan hangat. Pasti ada obrolan-obrolan yang ingin disampaikan anggota keluarga. Topik yang dibicarakan juga disesuaikan dengan lawan bicaranya. Misalnya, ketika gue masih kecil, Mama bakal cerita apa yang terjadi dengan anak-anak seusia gue. Contoh:

Waktu kecil:
"Bi, kamu tau nggak anaknya Bu Atun?"
"Err... aku kan anaknya Bu Atun. Itu kan nama Mama."
"Oiyah."

Nggak, bukan gitu dialognya. Gini nih yang bener:

"Kamu kenal anaknya Bu Atun nggak, Bi?"
"Oh, yang itu. Si Feli (nama disamarkan) kan?"
"Iya."
"Kenapa dia, Ma?"
"Kemarin, main sepeda jatuh, kecemplung ke got."
"Wow."
"Makanya kalo naik sepeda hati-hati, ya."
"Gimana mau naik sepeda, bisa juga nggak."

Dialog sederhana. Semua orang bisa menerima dialog ini.

Beda ketika gue udah beranjak dewasa. Topik yang dibicarakan agak berat, tapi masih dalam jangkauan orang-orang seusia gue.

Dialog sekarang:

"Kamu kenal anaknya Bu Atun nggak?"
"Iya, si Feli kan, yang dulu waktu kecil pernah kecebur got"
"Nah itu."
"Kenapa, Ma?"
"Dia.. HAMIL!"

Gue tersedak, lalu batuk.

"YANG BENER, MA?!" kata gue, heboh.
"Beneran! Kata orang-orang udah hamil sebulan."

Gue kaget. Gimana nggak kaget, orang yang masih seusia gue... harus udah punya anak. Ngeri, kan? Hmmm... mungkin ada yang belum tau usia gue sesungguhnya. Gue masih 16 tahun, dan yang ngira gue udah berusia 34 tahun, itu salah besar. Oke, lupakan. Intinya, gue masih muda dan bergairah.

Gue nggak bisa bayangin kalo orang yang masih seumuran gue udah punya anak. Gimana ngatur keuangannya, sedangkan nyari kerja itu susahnya setengah mati. (Kenapa gue tau? Denger cerita dari orang doang sih, kalo nyari kerja itu susahnya setengah mati). Belum lagi, kalo misalnya si cowok (yang menghamili) ternyata kurang punya tanggung jawab. Iya kalo misalnya udah punya kerjaan tetap, punya apartemen di mana-mana, punya perusahaan Facebook. Bentar, oh jadi pelakunya MARK ZUCKERBERG??! Ck, gue kecewa dengan lo, Mark!
Maksud gue, kalo misalnya si cowok ternyata belum kerja gimana? Anak itu mau dikasih makan apa? Lumut kran masjid? Ya, jelas nggak mungkin. Kalo ternyata si cowok umurnya masih 9 tahun gimana? Ya, nggak mungkin lah. Belum puber kali~
Perbedaan dialog yang gue rasakan lainnya adalah dialog ketika belajar di kelas. Contoh, ketika pelajaran sedang berlangsung, guru selesai ngasih materi.

Ketika SD:
"Kamu kenapa nggak bisa?"
"Saya nggak ngerti, Bu"
"Oh.. sini ibu ajarin"

Bu gurunya ngajarin dengan sabar, anaknya bisa. Kelar urusan.

Beda ketika gue di SMA. True story, suatu hari di mata pelajaran Kimia di kelas gue.

"Yang di belakang paham nggak?" kata guru Kimia.
Seisi kelas diam.
"WOYY! YANG DI BELAKANG PAHAM GAK?!"
Seisi kelas diam lagi.
"KALO ULANGAN GAK BISA, GUA SURUH LARI LO, YA!" kata guru Kimia sambil mengacungkan jari telunjuknya di udara, menunjuk kami yang duduk di belakang.

Tetep diem.. bukan karena kita nggak bisa ngomong, tapi karena ketakutan. Ujung-ujungnya, belum tentu bisa materi yang diajarin, malah itu guru jadi bahan gunjingan murid-muridnya karena sikapnya yang mirip Hitler.

Begitupun ketika di kelas lain. Kalo ini, nggak true story.

"Yang di belakang paham nggak?"
Seisi kelas diam.
"WOYY! YANG DI BELAKANG PAHAM GAK?!"
Seisi kelas diam lagi.
"KALO ULANGAN GAK BISA, GUA SURUH LARI LO, YA!"
Diam juga.
Ternyata, di kelas itu cuma ada dia doang. Sendiri. Yang dari tadi dia tunjuk adalah gelas kimia dan timbangan. 
Segitu aja sih contohnya. Pasti kalian juga pernah ngerasain perbedaan dialog pada kondisi yang sama. Kalo bisa, coba share di kolom komentar. 
Ciao! Sekian dan gracias~

14 comments:

  1. beneran hamil nggak tuh? umur 16 hamil? gile.. itu sadis amat gurunya pakai gue-lo sama murid. eh.. muridnya gelas kimi sama timbangan.

    ah.... dasar elektrovalensi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weyyy... awas kelilipan Natrium Klorida~

      Delete
  2. Gue ngerti maksudnya..

    Apa yang gue jalani sekarang sudah berubah perlahan-lahan, saat kita baru menyadari kita akan mengira sebuah perubahan itu terjadi sangat drastis, tapi tidak.
    Dulu, waktu kecil, ngobrolnya seru, asyik, dan ngga garing. Sekarang, ngomong sama orang, matanya tetep ngelirik hape, termasuk gue juga sih~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, baca dan renungkan komentar di atas, sobat~

      Delete
  3. Makin gila aja pergaulan zaman sekarang 16 tahun udah mau punya anak

    ReplyDelete
  4. hahaha koplak banget hahah bener nih, harus nerti dialog sama kondisi :D

    ReplyDelete
  5. Dulu waktu kecil gue manggil bokap gue dengan sebutan bapak, sekarang gue udah lumayan gede gue panggil bapak gue dengan sebutan "bro"

    ReplyDelete
  6. gagal paham nih sama dialognya :D
    zaman sekarang udah seperti itu :(

    ReplyDelete
  7. Iya, juga nih. Sekarang malah tinggal SMS, "Gue udah depan rumah lu nih. Keluar dong!" Gawwwllll.

    Bise aja nih anaknya Bu Atun. Jadi, Feli itu sodara kembar lu, Bi? Emaap. Zaman sekarang ada-ada aja, ya. Baru 16 tahun udah punya anak. Ckck. Gue umur segitu mah... juga punya anak, tapi pas main Harvest Moon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm... bukan dong, bang. :D

      Waduh, ketauan istri nggak tuh kalo lagi BW ke sini? Awas, Popuri marah hahaha

      Delete
  8. Hmmm jadi Mark Zuckerberg adalah penimbun janin di tetangga lo rob? Hmmm.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.