18 September 2015

Akhirnya Bisa Ikut Selametan Lagi

Belum lama ini, gue nge-tweet seperti ini.


Tadi setelah magrib, akhirnya gue bisa ikut selametan lagi. Whoaaah.

Kalo diingat lebih jauh lagi, kali terakhir gue ikut selametan adalah ketika gue masih ngaji, dan itu sekitar setahun yang lalu. Biasanya setiap pulang ngaji, gue selalu diajak guru ngaji gue buat ikut selametan di tempat yang dia datengi juga. Intinya, dulu, gue termasuk dalam pasukan pemburu besek.

Anak kecil di lingkungan mes gue ada yang mau disunat (buat yang belum tau mes itu apa, bisa baca di sini). Sebelum disunat, diadakan selametan terlebih dahulu. Biar lancar dan nggak ada halangan lain, katanya.

Semua orang di mes diundang, termasuk bapak gue. Biasanya setiap keluarga ada perwakilan untuk ikut selametan. Berhubung bapak gue kerja, maka gue yang mewakili keluarga buat hadir di acara selametan. Yoi, lumayan juga kan.

Gue langsung ke tempat acara selametan. Para tamu udah banyak yang duduk, mereka semua bapak-bapak. Gue nyari Sofyan--teman gue yang tinggal di mes, tapi dia nggak ada. Gue cuma liat bapaknya, dan gue perkirakan Sofyan nggak bakal dateng karena udah ada wakilnya.

Seperti kebiasaan tamu selametan pada umumnya, sebelum duduk, gue langsung cium tangan ke beberapa orang yang dekat dengan gue. Nggak mungkin buat cium tangan mereka semua satu per satu mengingat banyaknya tamu yang ada.  Selesai cium tangan, gue langsung duduk di atas lembaran kertas panjang berbahan mirip kardus yang dijadikan alas duduk.

Gue mendengar perbincangan dua orang tua, satu di antaranya sedang memegang selembar kertas. "Ini apaan tulisannya?" kata Ustad Kamal
"Ini tulisannya orang yang sudah meninggal." kata Abah Jali--sang sesepuh mes.
"Ah, udah gak keliatan. Nanti bacain ya"

Ustad Kamal adalah seorang ustad yang udah berumur. Umurnya gue perkirakan udah mencapai kepala tujuh, atau tujuh puluhan tahun. Dia adalah seorang guru yang ngajarin guru ngaji gue juga. Jadi, dia adalah kakek dalam ilmu yang gue terima.

Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba salah satu tetangga gue langsung nyebut nama gue. "Tuh, Robby aja suruh bacain."

Ustad Kamal dan Abah Jali langsung menatap gue. Aneh, padahal Ustad Kamal nggak tau nama gue, tapi bisa langsung ngeliat ke gue setelah mendengar nama gue disebut. Gue tau banget kebiasaan Ustad Kamal yang pelupa setiap ketemu gue di mushola, tempat gue ngaji. Beliau selalu nanyain rumah gue dan Sofyan, pada waktu yang sama, dan pada kesempatan lain bertemu, beliau bakal nanya lagi.

"Rumah lu di mana, tong?"
"Di mes Muara Agung, kong (maksudnya engkong)"
"Oooh..."

Seminggu kemudian...

"Rumah lu di mana, tong?"
"Itu... di mes Muara Agung, kong."


Sebulan kemudian....

"Rumah lu di mana, tong?"
"BODOAMAAAT~"

Setelah menatap gue, Ustad Kamal langsung memanggil gue. "Sini, tong." Gue langsung duduk di samping Ustad Kamal.
"Nanti bacain ini ya"
"Iya, kong." Jawab gue
"Rumah lu di mana, tong?"
"...."

Acara dimulai dengan pembacaan surat Al-Fatihah. Kemudian, mengirimkan doa untuk keluarga yang sudah meninggal. Gue deg-degan, takut salah ucap. Gue lupa apa yang diucapkan Ustad Kamal, tapi ketika Ustad Kamal nyebut "khususon", Ustad Kamal langsung nyolek gue, pertanda nyuruh gue buat bacain nama yang udah ditulis untuk dikirimkan doa.

Semuanya beres, lalu datang jamuan alias makanan. Isinya berupa kue-kue dan kacang. Datang dihadapan gue sebuah piring berisi tiga kue bolu dan tiga kue mangkok. Gue berkata dalam hati, "Wah, makanan yang udah jarang gue temui nih! Sikhaaaat!"
Satu kue bolu langsung gue embat.

Ustad Kamal minta gue ambilin rokok yang ada di dalam gelas. Langsung gue ambil sebatang rokok dan gue kasih ke Ustad Kamal.
"Koreknya mana?" tanya Ustad Kamal, sambil memasang wajah yang seolah berkata "Kalo gak ada koreknya, gue ngerokok pake apa, bego!"
"Ehh...." mata gue sibuk mencari korek, "Nggak ada"
"Coba pinjem ke sebelah" katanya.
Gue langsung canggung. Gue nggak biasa minjem korek dan gue nggak biasa ngomong di depan bapak-bapak.
"Udah, pinjem aja," kata Ustad Kamal seolah meyakinkan gue.
"Pak, pinjem korek dong," gue meminta dengan suara yang penuh keraguan.
"Nih." Bapak-bapak itu langsung minjemin korek ke gue
Gue langsung memberikan ke Ustad Kamal. Dia menyalakan rokoknya, lalu mengisapnya.
"Rokok apaan nih, nggak ada rasanya." Dia ngomong ke gue. "Coba liat, apa ini merknya"

Sejauh ini, gue masih penasaran dengan apa rasa dari sebuah rokok sampe si engkong yang satu ini bilang nggak ada rasanya. Kecuali, kalo misalnya tertulis rasa nanas di kemasann luarnya, baru deh gue percaya kalo rokok ada rasanya.

"Ini Blackgold. Apache." kata gue.

Piring yang tadinya berisi banyak kue, sekarang tinggal tersisa hanya kue mangkok.
"Abisin" kata Ustad Kamal sambil nyolek kaki gue. Ini adalah sebuah perintah, dan gue harus melaksanakannya. Siap, guru!

Para tamu ngobrol dengan teman-temannya yang mereka kenal. Obrolannya nggak jauh dari kerjaan pabrik karena mayoritas warga di sekita mes adalah para pekerja pabrik. Ada juga sih yang masih ngomongin batu cincin. Nah, inilah interaksi sosial yang sesungguhnya. Bukan hanya lewat teks atau suara, tapi benar-benar bertatap muka yang udah jarang gue dapatkan karena kecanggihan teknologi. Emang sih masih ada sekolah, tapi gimana interaksi dengan teman lama? Udah terbantu oleh teknologi.

Kemudian, berkat diberikan satu per satu. Dan adzan sholat Isya' telah berkumandang, bersamaan dengan itu para tamu pamit pulang. Gue pulang sebentar menaruh berkat ke rumah, lalu sholat Isya' berjamaah di mushola. Saatnya interaksi dengan Tuhan.

7 comments:

  1. keren ih bikin ngangkak baca blok lu :v wkwk :3 cita-cita lu mau jadi apa si :v

    ReplyDelete
  2. ngebaca ada tulisan makanannya jadi laper nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makan dong... laptopnya. Sekarang juga~

      Delete
  3. Hahaha. Suruh bacain yang bin atau binti gitu, ya? Waktu itu tetangga gue daftarnya panjang banget. Padahal acara 40 harian, tapi beberapa saudara yang udah meninggal itu juga turut didoain. Namanya juga selametan sekalian. Hehe :)

    Gue juga udah lama nggak ikut, tapi baru-baru ini ikut. Gantiin bokap gue yang ngga bisa hadir karena kerja. Mayanlah, makan gratis. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, bener banget. Biar sekalian aja, jangan ngadain selametan tiap hari juga. Bisa tekor hehehe

      Hahaha, kapan lagi gitu, kan? Sering-sering aja kayak gitu

      Delete
  4. Iya banget tuh, gue juga ngga pernah lagi ngerasain hangatnya bebicara langsung. Dikeluarga aja, jarang banget :(

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.