Sebuah Kritik Itu Perlu

Gue lupa ini terjadi kapan, tapi tepatnya di bulan Agustus 2015. Ketika itu, sedang berlangsung pelajaran Prakarya. Untuk pelajaran Prakarya di kelas 11, kami akan mencoba berwirausaha di bidang kuliner. Sayang banget, padahal tadinya gue ngarep di bidang ternak. Dari rencana yang dikatakan Bu Nia--guru Prakarya gue-- mau ada ternak lele. Gue, sih, lebih ngarep ternak cabe-cabean. Prospeknya cerah, cuy!

Tentunya, karena di bidang kuliner, seseorang harus bisa masak. Sedangkan gue, nggak punya keahlian masak. Matiin kompor aja tangan gue gemeteran.
Selama gue hidup, sayur sop adalah makanan berkelas yang pernah gue buat. Itu pun dibantu Mama, kerjaan gue... cuma nyalain kompor (tentunya dengan tangan gemetar). Sisanya, gue cuma bisa masak mi instan dan agar-agar. Seandainya gue membuat restoran dengan masakan hasil buatan gue sendiri, menunya cuma itu-itu aja. Makanan utama: mi rebus rasa soto. Dessert-nya: agar-agar.

Kami dibagi ke beberapa kelompok. Satu kelompok berisi empat orang. Gue bergabung di kelompok 2, dan gue satu-satunya cowok. Oke, yang lain cewek pasti jago urusan dapur. Gue cuma bisa bantu doa.

Rencananya, kami akan masak kroket kentang. Hari memasak pun udah ditentukan. Tiba di hari memasak di rumah salah satu teman di kelompok gue.
Seperti yang udah gue katakan, cewek lebih mendominasi di dapur. Sedangkan gue nggak terlalu keliatan kerjanya. Paling di momen krusial tertentu gue campur tangan. Misalnya, ketika semua cewek nggak bisa nyalain kompor, gue memberanikan diri buat nyalain kompor. Hentakan pertama, gagal. Di hentakan kedua berhasil. Ternyata, nggak sia-sia skill nyalain kompor yang udah gue latih selama 4 tahun ini. Setelah sekitar satu jam beres masak, makanan yang kita (lebih tepatnya mereka) buat jadi. Gue senang bukan main bisa terlibat dalam proses masak ini.

Keesokan harinya, tiba saatnya kelompok gue presentasi. Makanan yang udah dibuat dibawa ketika presentasi dan dicicpi oleh teman dan guru Prakarya. Penjualan, pembuatan, modal, untung, bahan semuanya dibahas.
Bu Nia mengambil satu kroket, lalu memberi secuil kroket buatan kami kepada teman-teman yang berperan sebagai pencicip. Beberapa teman di kelas mulai mencicipi. Salah satu pencicip ada yang menunjukkan sikap yang membuat gue down. Gue berdiri di depan, memperhatikan gerak-geriknya. Dia mencium secuil kroket yang udah diberikan Bu Nia, dan mukanya berkata ada sesuatu yang salah. Ketika dia makan kroket kami, dia langsung menunjukan ekspresi mual.


Gue mulai down.

Dia langsung buru-buru keluar, sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Gue lihat dia menuju tempat sampah, lalu meludah. Sepertinya makanan yang baru aja dimakan, langsung dibuang. Deg! Mental semangat masak gue runtuh.


Gue merenung. Hingga pulang sekolah gue tetap merenung, merenungi apa yang salah pada gue dan kelompok gue. Apakah gue harus menyalahkan teman gue? Nggak. Karena konsumen adalah raja yang harus dipuaskan. Berarti, usaha kami belum maksimal.

Terutama bagi gue, yang masih terbayang tragedi itu. Mental gue belum kuat melihat kenyataan pahit, yang mungkin rasanya seperti kroket buatan kelompok kami. Eh, kroket buatan kelompok gue rasanya nggak pahit, ya!

Mungkin bisa jadi pelajaran buat orang yang mau berwirausaha, khususnya di bidang kuliner. Nggak cuma di bidang bisnis juga, sih. Di kehidupan sehari-hari juga harus diterapkan. Kritik itu perlu, bahkan harus diterima walaupun pahit. Karena dengan kritik kualitas pada diri kita akan membaik jika ditanggapi dengan positif. Carilah orang yang mau mengkritik karya kita, demi kemajuan karya kita.

Masalah makanan itu gue nggak sakit hati. Ya, namanya juga usaha pertama. Nggak ada yang langsung sempurna, apalagi ini urusan makanan yang artinya selera orang berbeda terhadap makanan.

Daritadi gue ngomongin kritik, gue jadi mau bertanya ke kalian yang sedang membaca blog gue. Jadi, apa kritik kalian tentang blog gue?


23 komentar:

  1. hahaha walaupun perlu, kadang mah ada nyess nya juga pas denger kritik

    ReplyDelete
  2. Kritik gue tentang blog lo, blog lo bikin mual. HAHAHA.
    Becanda broo. :D

    Udah bagus sih bro menurut gue. Btw, itu header bikin sendiri?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ampuuun, Chef~

      Mesen sama orang, bro. Gue nggak bisa bikin sendiri

      Delete
  3. Perlu banget kritik itu, kalo kata orang bilang: "kritik membangun", dan tergantung kita yang nerima kritik itu mau apa ngga nganggepnya sebagai kritik membangun. Dan ya, yang namanya usaha pertama emang ga selalu sempurna. Justru dari kegagalan itu kita "diingetin" untuk berusaha lagi biar lebih sempurna.

    Btw, blognya oke kok :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuuh, bhang! Makasih ya masukannya :)

      Delete
  4. Emang elu gak cicipin kroketnya dulu sebelum dicicipin sama guru dan tim pencicip?

    ReplyDelete
  5. Gue juga pernah masak. Bukan kroket, sih. Lebih sederhana. Cuma telur goreng. Awalnya lupa ngasih garem, hambar. Terus keasinan. Lama-lama bisa deh rasanya pas. :))

    Kritik itu emang perlu banget. Gue malah lebih suka dikritik daripada dipuji. :D

    Hmm, kasih kritik di blog lu, ya?

    Soal EYD udah lumayan, header dan tampilan blog juga udah bagus. Yang kurang kayaknya variasi tulisan aja, sama gaya menulis lu. Masih agak terpengaruh Radit gitu. Apa perasaan gue aja? Bisa sesekali bikin tulisan fiksi untuk membuat blog lebih berwarna. Hahaha. CMIIW.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss! Gue juga lebih suka dikritik, ya cuma gitu, suka down kalo dikritik.

      Oke, variasi tulisan masih bisa diperbaiki. Thanks, bang!

      Delete
  6. gue gak ada kritik2 deh ke blog loe bro, mnrt gw si simple, gak ribet, dan gw nyaman kesini....
    oya, kalo kritik tuh harus ada sarannya juga biar kedepan jadi lebih baik, jadi kalo bisanya cuman ngritik aja ya jdnya gabaik....

    ReplyDelete
  7. Kritik itu perlu asal cara penyampaiannya aja yang pas, ya kali temenmu mau ngritik ala juri masterchef sambil bentak-bentak gitu. Yang ada kamu bukan down lagi tapi udah turun berok (?) Tapi kamu gak menjelaskan apa rasa kroket tadi kok tau-tau temenmu mual muntah gitu. Mungkin dia lagi masuk angin atau lagi sakit gitu makanya mual.

    Tentang blog aku suka warna biru, karena spongebob warna biru, apasih. Pokoknya blog yang menurut aku bagus itu gak terlalu lama buat load, karena lama buat load itu memakan banyak kuota, dan blogmu ini ringan lho pas dibuka. Jadi ya bagus, gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, namanya orang, siapa yang tau kondisi tubuhnya.

      Gue satu suara nih, kalo blog yang enak itu yang load-nya nggak berat. Sip! *toss*

      Delete
  8. itu temennya jahat banget, masa iya langsung dimutahin didepan temannya sendiri?
    jadi berasa kaya lagi lomba masterchef aja kalo gitu.

    aku juga pernah kok ada matakuliah yang masak-masak gitu, dan yaa kritik saran itu memang selalu ada. Toh itu juga untuk kebaikkan kita kedepannya :)

    kalau bicara tentang blog sih aku suka, karena sederhana. kalau bicara warna itu kan selera masing-masing yak. cuma saran adain yang post-post populer gitu dong biar tau yang favorit di blog ini apa. hehe

    ReplyDelete
  9. yaelah masak kroket aja kagak bisa, dulu waktu SD pas kelulusan selalu ada itu namanya praktek Ujian Masak, dan kelompok gue buat opor ayam, dan hasilnya enak. belajar lagi masa gih. soalnyaitu skill yg dibutuhi ketika merantau jadi anak kost.

    kalo boleh ngritik, font dari templeatenya kurang enak buat dibaca, serasa tulisan itu dempet rapet semua, bikin mata gue juling karena rapet banget itu si tulisan.
    terus kalo ada spam kayak komentar diatas mendingan dihapus aja, bikin mata sumpek lihatnya.

    ReplyDelete
  10. Sebenernya, gk ada kritik yang baik. semua kritik itu menjatuhkan orang.
    yang dibutuhkan itu saran.

    saran saya sih, gunain moderasi komentar aja biar komen gk jelas bisa ente hapus dn gk langsung posting.

    ReplyDelete
  11. Masih untung kejadiannya tuh pas lagi pelajaran prakarya. Bayangin, kalo kamu udah buka usaha, buka restoran misalnya, terus ada pelanggan yg bertindak kayak gitu, ujung2nya kamu bukan hanya dapat sakit hati, tapi juga mungkin dituntut secara pidana. Jadi syukuri saja, ambill makna positifnya, buang makna negatifnya.

    ReplyDelete
  12. seharusnya sebelum dihidangkan ke guru, dicoba dulu bagaimana rasanya. Gue seneng malah kalo dikritik, itu tandanya mereka tahu kesalahan kita. Kritik buat blog ini, nggak ada, soalnya blognya udah bagus. Cuma kayaknya jarang update aja, agak sedikit berdebu

    ReplyDelete
  13. Gak semua kritik bisa di terima sih. Aku nerima kritik, tapi kadang suka gak terima juga hehehe

    Kritik yang baik itu harus dengan solusinya, kalau dari kasus kroket, kayanya itu itu lebih ke kritik menjatuhkan.

    Emang segak enak apa sih kroketnya ampe bisa bikin yang nyiciinnya mual-mual dan muntah-muntah. Reaksinya agak lebay sih, meskipun gak enak harusnya gak segitunya juga kali.

    Tapi gak tahu deh, mungkin kroketnya emang ancur kali rasanya hahaha

    ReplyDelete
  14. kritik itu memang perlu. untuk yang nyoba itu bu nia, coba kalau chef juna. pasti udah bukan ngedown lagi, pingsan langsung kalik... tapi sekolah lo keren juga pelajaran prakarya nya ada belajar tentang wirausaha gitu.

    kiritik saya... mungkin template nya dibikin lebih "cool" lagi...

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.