Problematika Matematika dan Ditelepon Mbak-Mbak Penagih Pulsa

Mungkin, orang yang pernah sekolah sepakat kalau pelajaran Matematika adalah pelajaran paling sulit. Gue pun begitu. Kadang Matematika sangat mudah dipahami, di lain hari jadi susah dipahami. Mirip sama perasaannya cewek, susah ditebak.

Hari itu, tepatnya hari Jumat, masih tersisa pelajaran Matematika Peminatan sebelum pulang. Pelajaran Matematika Peminatan dimulai dari jam 1 siang. Sampai pukul 13.15, guru gue --Pak Maryana-- belum masuk ke kelas. Ada kabar yang menyebutkan kalau Pak Maryana nggak masuk. Ada juga yang bilang Pak Maryana pulang. Ternyata, kabar itu cuma hoax. Pukul 13.20 beliau masuk ke kelas gue.

Seperti guru-guru yang lain saat pertama kali masuk kelas, Pak Maryana memulai pelajaran dengan memberi ceramah. Setelah mendengar khutbah Jumat, kini gue harus dengar ceramah dari Pak Mar--sapaan dari Pak Maryana--. Bawaannya mau sholat Jumat lagi di kelas.


Sekitar 20 menit memberi ceramah dan motivasi. Topik utamanya adalah seputar kerja sama kelas. Pokoknya, inti dari 20 menit itu adalah jangan pelit berbagi sama teman yang nggak paham materi. Beruntung bagi gue yang kadang nggak ngerti pelajaran Matematika Peminatan. Bersabarlah teman-teman yang nanti gue repotkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik: "Kok bisa dapet segini?", "Ini gimana caranya?", "Bapak kamu tukang tambal ban, ya?" Yang terakhir abaikan saja. Kebiasaan nge-gombal kebawa di blog.

"Baiklah, kita masuk ke materi awal di semester satu di kelas 11," kata Pak Mar. "Kita masuk ke bab Polinomial." Pak Mar menambahkan. Lalu, bertanya ke para murid, "Ada yang tau apa itu Polinomial?"

Seisi kelas hening. Nggak ada yang tau apa itu Polinomial.

"Mungkin kalian tau apa itu poli. Atau pernah mendengar istilah poligami. Poli artinya?"

"Banyak." murid-murid menjawab serentak. Ada yang tertawa mendengar kata poligami. Entah apa yang bikin orang itu ketawa.

"Jadi Polinomial adalah bentuk pangkat suku banyak."

Oh, ternyata Polinomial itu artinya bentuk pangkat suku banyak. Tadinya gue sempat berpikir Polinomial adalah sebuah kata yang terdiri dari beberapa kata yang punya arti berbeda. Inilah Polinomial yang gue maksud,


Poli: banyak
No: tidak
Mi: mi instan
Al: semua (maksudnya all)

Kalau dibalik, jadinya: Semua mi instan tidak banyak. Ah, lupakan.

Pak Mar mulai memberikan contoh bentuk dari Polinomial. Gue mulai tau dan mengenal beberapa bentuk Polinomial. Lalu, Pak memeberi contoh sistem operasi Polinomial, yaitu penjumlahan dan pengurangan. Gue masih paham.
Masuk ke bentuk perkalian, gue mulai keblinger. Kampret, banyak banget nih hitungannya, kata gue. Untung gue duduk di sebelah orang yang benar. Dia adalah Abilio, teman sekelas saat lintas minat Bahasa Inggris. Abil ini orangnya baik. Gue diajarin sampai ngerti sama dia. Untung dia cowok, kalau cewek pasti gue jadiin emak tuh.

Baru kali ini gue bisa lebih dekat dengan Abil. Sebentar, gue ngomong lagi deket sama cowok, kok rasanya jadi kayak orang yang baru memulai karir sebagai homo, ya? Ya, pokoknya jangan jijik atau mengira gue homo, tapi ini yang namanya pertemanan. Tolong, jangan salah paham.

Jam dinding menunjukkan pukul 14.20. Sedangkan di hape gue menunjuk pukul 14.18. Gue iseng buka jam di hape buat membandingkan dengan jam dinding. Tapi, ada satu pemberitahuan yang muncul.

2 panggilan tak terjawab. 021xxxxxxx.

Dua panggilan tak terjawab dari 10 digit nomor. Siapa dia? Nomornya nggak ada di kontak gue. Jangan-jangan dia adalah orang yang menemukan sendal gue yang hilang saat tarawih di Bekasi. Eh, tapi mana mungkin. Di sendal itu nggak ada nomor telepon gue.Nomor itu gue abaikan, nggak gue pikirin.

Pukul 14.40 adalah puncak masalah yang timbul. Kepala gue pusing, mabok kebanyakan ngeliat variabel, pangkat, dan angka. Aneh, gue nggak pernah mabok ketika perjalanan, tapi ketika berhadapan dengan variabel gue merasa mabok. Setidaknya, mabok gue lebih keren.
Sebenarnya, gue mengira bakal pulang jam setengah 3. Tapi, sampai jam setengah 3 belum terdengar bel pulang. Ya, gue harap sih pukul 14.45 udah pulang.

PUSING PALAWIJA

10 menit kemudian, bel pulang belum berbunyi. Gue jadi sering ketawa sendiri gara-gara mabok ngeliat papan tulis yang penuh dengan angka dan variabel. Hati gue berteriak, "Pulangkan kami! Pulangkan kami! Pulangkan saja, aku pada ibuku atau ayahku! (Woy, dangdut!)".

Akhirnya, bel berbunyi, tapi pukul 15.20. Ya, nggak masalah sih, justru gue bersyukur. Setidaknya pelajaran Matematika Peminatan hari ini selesai dan kepala gue terhindar dari ledakan hebat.

Baca sambungannya di sini.

Extra:

Pulang sekolah gue bareng Oky naik angkot. Kita ngobrolin pelajaran di kelas kita masing-masing. Tentu, gue punya topik yang menarik, yaitu problematika Matematika yang gue alami tadi. Saking serunya ngobrol, nggak terasa Oku udah turun duluan dari angkot. Obrolan kita selesai hari itu.

Setelah Oky turun mendahulu gue, gue ngecek hape. Kali aja ada pulsa nyasar ke hape gue. Baru aja buka hape, tiba-tiba nomor yang tadi nelepon gue kembali nelepon. Siapa tau ini rezeki, angkat aja lah, pikir gue.

"Halo, siapa ini"

"bla bla bla bla bla bla" suara dari seberang sana. Nggak jelas, tapi suaranya cewek. Mungkin kalian berpikir "Emang ada cewek yang ngomongnya blablablablabla?" Bukan gitu maksudnya.

"Apakah bapak pemilik email robbyharyanto1@gmail.com?" kata si mbak-mbak-bersuara-blablabla.

Tunggu, kenapa dia beranggapan gue adalah seorang bapak? AKU MASIH SMA KELAS 2, MBAK.

"Iya benar" jawab gue singkat.

"Saya minta waktu bapak sebentar. Sekitar dua sampai tiga menit untuk menanyakan paket Bolt bapak."

Paket bolt? Nah, jadi sejak pertama kali gue paket Bolt 45 hari yang lalu, gue belum pernah beli pulsa. Gue masih memanfaatkan bonus yang dberikan. Lumayan, bro, 8 GB!

"Bolehkah saya tau mengapa bapak belum membeli pulsa?" kata si mbak-mbak.

Gue diam dan bingung. Sebenarnya gue udah menyiapkan banyak jawaban, tapi gue masih di angkot. Ini ruang publik. Gue malu kalau publik tau dengan nasib gue sekarang: belum beli pulsa BOLT.

"Nanti saja mbak. Saya masih di perjalanan pulang." kata gue."

"Oh, lagi di jalan." kata mbak-mbak penagih pulsa dengan nada seorang pacar yang posesif. Lalu dilanjutkan suara yang semakin nggak jelas "bla bla bla bla."

Gue hentikan panggilan.

Sejujurnya, gue mau banget ngejelasin banyak hal. Tapi masalah utamanya adalah "KENAPA MANGGIL GUE DENGAN SEBUTAN BAPAK??! GUE TAU MUKA GUE KELIATAN TUA, TAPI GUE MASIH 16 TAHUUUN!" Kzl. Gue juga takut kalau terlalu nyaman ngejelasin perasaan gue, tiba-tiba gue suka sama si mbak-mbak. Kan repot.

Sampai di rumah, gue berharap mbak-mbak tadi itu nelepon gue lagi. Tapi, sampai gue menulis post ini, gue belum ditelepon kembali. #Ngarep


4 komentar:

  1. Udah gapapa lah dipanggil bapak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sih. Tapi belum siap jadi bapak :((

      Delete
  2. biarin dibilang bapak-bapak tapi dengan sebutan bapak muda :D jadi gak akan ada nama tua nya :D hihihi

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.