Mantan Ketua Kelas, Kelas Baru dan Audi

thumbnail-cadangan
Mungkin, di antara kalian yang rutin membaca blog gue, pasti ada yang bertanya-tanya bagaimana dengan nasib gue di kelas baru, kelas yang udah diacak lagi.

Sebelumnya, gue pernah jadi ketua kelas di 11 MIPA 2. Bisa dibaca di sini. Syukur-syukur dibaca, biar nyambung sama ceritanya.

PS: Untuk tahun ini, nama jurusan kembali dirubah. Sebelumnya menggunakan nama MIA, dan sekarang berubah jadi MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Gue nggak tau apa perubahan ini dialami seluruh SMA di Indonesia atau tidak. Tapi yang jelas, ini bukan hal yang biasa.

Entah ini dirasakan teman-teman gue atau nggak, gue mengalami perubahan karakter. Mungkin, di kelas 10 gue jadi lelaki-gembel-cengengesan, tapi sejak kelas 11 gue menjadi lelaki-gembel-penyendiri-dan-cengengesan. (Tetep, cengengesan itu perlu!). Iya, gue sekarang lebih jarang ngomong. Apa ini... pertanda 40 hari? 40 hari gue akan... menikah. Jangan. Jangan sampai!

Begitupun dengan yang gue rasakan ketika jadi ketua kelas saat kelas 11. Gue memasang wajah kaku, layaknya kanebo kering. Eh, emang bener sih muka gue mirip kanebo. Gue jarang bicara. Gue pasif. Pokoknya bukan mencirikan ketua pada umumnya deh.

Semua ke-pasif-an gue timbul karena adanya penyakit pada diri gue, yaitu nggak mau ngomong sama orang yang nggak kenal sama sekali. Semua orang di mata gue adalah orang asing yang siap menerkam jika gue berbicara. Penyakit, nih, namanya!

Beruntung, gue pindah kelas. Secara otomatis, gue udah nggak jadi ketua kelas lagi. Kalau dibilang senang, ya, senang. Tapi ada sedihnya juga. Senang karena lepas dari tanggung jawab kelas, sedih karena baru aja gue kehilangan momen langka. Lebih banyak senangnya sih, hehehe.

Di kelas baru pun gue masih jadi orang yang pendiam. Cuma ngobrol sama teman yang gue kenal dari kelas 10. Sisanya, paling ngobrol sama cowok. Tapi, gue pun ngeri juga ngobrol sama cowok. Kalau salah ngomong, leher gue bisa patah.

Gue punya trik tersendiri ketika ngobrol, yaitu basa-basi yang nggak bermanfaat tapi tetap enak buat jadi bahan obrolan. Makanya, gue lebih suka ngobrol sama cowok karena topiknya yang mudah diangkat. Misal, ngomongin bola, ngomongin spongebob, sama ngomongin berbau kamar mandi. Yak, maksudnya adalah kran air. Tapi, gue memperingatkan jangan sampai berbasa-basi dengan topik yang terlalu dangkal. Misal,

"Hai," kata cowok A dengan penampilan kumis tipis, rambut kelimis dan otot kekar.
"Hai juga," kata cowok B yang berpenampilan seperti preman pasar.

(Tapi, KENAPA PREMAN PASAR MAU NYAUTIN, YA?!)

"Hmmmm," terlihat wajah malu-malu si cowok B.
"Enaknya ngobrolin apa, ya?" kata si cowok A. Memecah keheningan.
"Nggak tau deh." jawab cowok B singkat. "Oh iya, gue boleh tanya sesuatu nggak?"
"Mau nanya apa?"
"Lu suka warna apa?" tanya cowok B.

Seketika, tampang preman pasar menjadi tak ada harganya.

"Merah muda." jawab cowok A. Kumis tipisnya bergetar, seakan-akan memprotes, "APA GUNANYA KEHADIRANKU, BANG?! JIKA KAMU SUKA WARNA MERAH MUDA."
"Ih, sama dong."

Mereka mulai akrab, cubit-cubitan, ciuman, dan jadian. Romantis sekali.

Dalam berkenalan, hal terpenting dan yang utama adalah menyebutkan nama. Sama seperti yang diminta Bu Iin--guru Kimia gue-- hari Senin kemarin.

Hari itu adalah pertemuan pertama pelajaran Kimia. Tapi, bagi gue, ini adalah yang kedua setelah gue merasakannya di kelas 11 MIPA 2 (kelas gue sebelum diacak). Bu Iin ingin kenal nama siswa satu per satu. Karena nggak ada absen, jadilah kita semua berkenalan dengan berdiri lalu menyebutkan nama.

Tiba giliran gue untuk menyebutkan nama. Gue berdiri, lalu mengatakan, "Nama saya Robby Haryanto, dipanggil Robby," Sebenarnya gue mau bilang, "Nama saya Robby Haryanto. Saya berkewarganegaraan Maroko. Ya, sebelas-dua belaslah sama Maroane Chamakh. Cita-cita saya mau jadi presiden Maroko," tapi gue urungkan niat itu. Takut disekap lalu dibuang ke Nusakambangan.

Gue bingung dengan orang-orang yang akhir-akhir ini sering ngobrol dengan gue. Pasti mereka semua bilang "Ha?". Entah suara gue yang kecil atau kuping mereka yang kemasukan kapuk bantal. Begitu juga dengan Bu Iin.

"Ha? Coba ulang lagi," kata Bu Iin.
"Nama saya Robby Haryanto. Dipanggilnya Robby."
"Ha? Audi?"

Gue tertawa. Gue tutup mulut menahan tertawa. Bu Iin geleng-geleng. Nama Robby diganti menjadi Audi, rasanya mau makan kapuk bantal sampai gue gemuk.

Mungkin, ini postingan yang nggak terlalu niat. Lumayan lah, buat baca-baca sebelum tidur.


4 komentar:

  1. Gagal paham sama cowok A dan B. Homo banget. :(

    Itu guru lu emang pendengarannya kurang baik, ya? :/
    Semoga gurunya kagak baca blog ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, di dunia nyata nggak ada kok yanb begitu.

      Ya, semoga deh. Masalahnya, nama tuh guru nggak disensor.

      Delete
  2. haha LD dari nama Robby jadi Audi :D mm, awas ntar jadi lekong lho*eh hihihi

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.