Kesurupan Sebagai Proteksi Diri

Malam minggu ini gue menjalani hidup seperti anak sekolah pada umumnya. Ya, gue ngerjain PR yang seabrek-abrek. Daripada ngerjain satu hari sebelum dikumpulkan, lebih baik gue merelakan malam minggu gue untuk ngerjain PR. Hidup pekerja PR!

Setelah capek ngerjain beberapa PR, gue istirahat sejenak pukul 20.30 buat makan malam. Gue makan mi goreng yang Mama masak tadi setelah magrib. Sambil makan mi goreng, gue nonton pertandingan Piala Super Italia antara Juventus vs Lazio bersama Mama dan Bapak. Gue memang bukan seorang Juventini (sebutan untuk fans Juventus) atau Laziale (sebutan untuk fans Lazio), tapi gue emang suka tim-tim Italia. Padahal, ada alasan lain yang masuk akal: gue udah lama nggak nonton bola di tv.

Di sela-sela makan malam, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumah gue. Suaranya seperti Ibu Aldira (nama disamarkan), tetangga gue. "Mbak Roh (panggilan akrab Mama), itu si Jai ngamuk-ngamuk di depan rumah," Ibu Aldira setengah teriak. Wajahnya panik.

"Ada apa sih?" kata Mama, mencoba menenangkan.

"Itu... itu... si Jai ngamuk-ngamuk di depan rumah. Pulang kerja langsung marah-marah. Nggak ada yang misahin."

Bapak matiin tv. Lalu, Mama dan Bapak langsung bergegas keluar nyamperin Bang Jai. Keduanya panik dan cemas. Takut ada hal yang nggak diinginkan terjadi, misalnya Bang Jai keluar rumah bawa-bawa ulekan, lalu berteriak ke rumah-rumah warga, "SERAHKAN KEPALA KALIAN! AKAN KUULEK KEPALA KALIAN! CEPAT!". Mereka semua keluar rumah, sedangkan gue, masih asik dengan sepiring mi goreng. Ya iyalah, belum abis, nih. Sayang banget kalau ditinggal. Lagian, kenapa sih tv-nya dimatiin?! Sebel deh.

Gue menyalakan tv. Nonton pertandingan bola yang tadinya sedikit terganggu karena ada orang ngamuk. Sambil makan mi goreng, gue menikmati jalannya pertandingan dan mi goreng. Beuh, nikmatnya malam minggu.
Nggak lama setelah Mama dan Bapak keluar, terdengar suara yang sangat berisik dari luar rumah. Mungkin itu karena rumah Bang Jai nggak terlalu jauh dari rumah gue. Gue penasaran dengan apa yang telah terjadi di sana. Apakah Mama bakal diulek? Wah, gue jadi takut.

Gue memutuskan buat nggak mau ikut campur urusan orang dewasa. Gue nggak peduli dengan kejadian itu. Gue memutuskan buat nambah mi goreng. Asli, mi goreng buatan Mama emang paling enak dibanding tukang mi goreng manapun. Agak ngeri juga sih sendirian di rumah. Kalau tiba-tiba Bang Jai ngulek kepala gue buat topping mi goreng, gimana? Gue pasrah.

Sekitar 10 menit kemudian, Bapak balik lagi ke rumah, tanpa bersama Mama. Gue makin takut dengan kecurigaan tadi. Bapak bilang kalau Bang Jai kesurupan. Beneran atau nggak, Bapak juga nggak tau. Tapi, mana ada, sih, orang yang ngaku kalau dirinya lagi kesurupan. "WOI, GUE LAGI KESURUPAN NEHH. JANGAN DEKET-DEKET GUE. NANTI GUE ULEK KEPALA LU!" Nggak mungkin.

Sekitar 5 menit berselang, giliran Mama yang masuk. Dia cerita banyak, seolah reporter yang baru aja dapat kasus. "Katanya, abis pulang kerja. Tiba-tiba marah nggak jelas," kata Mama ke gue. "Kayaknya 'ketempelan' deh."

Ketempelan? Istilah apa ini?

Gue tau, maksud Mama yang sebenarnya adalah "kesurupan". Ya, cuma beda istilah doang, sih.  Nggak mungkin kan kalau "ketempelan" dalam makna sesungguhnya.

Mama melanjutkan cerita dengan bahasa Jawa, seolah menirukan Bang Jai yang sedang kesurupan. "Jangan usir cucuku!" Pokoknya begitulah bahasa Indonesianya. Gue lupa apa aja yang diucapkan Mama.

Mama melanjutkan cerita. Katanya, mungkin Bang Jai "ketempelan" kakeknya. Nah, seperti yang gue bilang tadi, bukan ketempelan dalam arti sesungguhnya. Masa iya, Bang Jai ketempelan kakeknya. Tiap hari, punggungnya selalu berisi kakeknya lagi tidur.  Saat Bang Jai kerja, kakeknya masih juga nempel di punggungnya. Lalu, setelah pulang kerja dia marah-marah. Mungkin itu faktor utama Bang Jai marah-marah.

Balik lagi ke cerita. Katanya, ada kabar bahwa Bang Jai disuruh pindah rumah. Bang Jai adalah seorang perantau. Dia kerja di Jakarta dan tinggal bersama mertuanya. Mungkin, nggak enak juga sih rasanya bagi orang yang udah berumah tangga masih tinggal bersama mertua.

Nah, yang membuat gue heran adalah kenapa Mama bisa menyimpulkan kalau Bang Jai kemasukan arwah kakeknya? Sedangkan, kakeknya tinggal di daerah Jawa Tengah?

Begini maksud gue. Jarak antara Jawa Tengah ke Jakarta itu jaraknya jauh banget. Mana mungkin Bang Jai tiba-tiba kesurupan arwah kakeknya, sedangkan kakeknya lagi ada di Jawa Tengah? Itu mustahil, men. Aewah Kakek Bang Jai harus menempuh perjalanan paling tidak sekitar 10 jam!
Atau, mungkin, arwah Kakek Bang Jai udah lama menetap di Jakarta, lalu nge-kos. Gue sih nggak bisa ngebayangin kalau arwah makan mi instan, apalagi mi goreng.

Beda dengan Mama, gue punya pendapat sendiri mengenai kasus kesurupan Bang Jai. Menurut gue, Bang Jai menolak untuk pindah rumah, lalu memanfaatkan yang namanya kesurupan sebagai media proteksi diri. Bisa jadi begitu. Soalnya, gue pernah degar cerita dari Mama kalau ada temannya di tempat kerja yang pura-pura kesurupan.

Jadi gini, teman Mama itu sangat pelit. Dia nggak mau beli makanan, bahkan buat diri sendiri. Saat jam kerja, entah karena lapar atau belum makan seminggu (intinya belum makan), tiba-tiba dia teriak, "BELIIN SAYA GORENGAN!" menandakan bahwa dia lagi kesurupan. Segala cara dilakukan membuat teman Mama sadar. Ujung-ujungnya, teman Mama malah ketauan kalau lagi pura-pura kesurupan.

Jadi, sekarang gue tau apa itu manfaat dari kesurupan: untuk proteksi diri. Bisa dilakukan saat keadaan genting sekalipun, kecuali saat nahan boker. Tolong, jangan kesurupan ketika nahan boker.
Kesurupanlah pada tempatnya.

Ada yang pernah kesurupan? Atau pernah kesurupan setelah baca blog gue? Silakan komentar di kolom yang udah disediakan, jangan di kolom renang. (Iya, bener. Maksud lu kolam kan?)

Oke, sekian postingan kali ini. Terakhir, gue baru aja dapet salam dari teman SD gue yang sekarang tinggal di Spanyol.




4 komentar:

  1. Itu terusannya gimana? Si bang Jai beneran kesurupan apa udh ktauan pura2??

    Bhahahaha.. Kocak jg kalo ksurupan ampe bawa2 ulekan.. Gak sekalian aja blender, kompor, panci, bawa deh tuh smuanya. wkwk.

    Btw, itu PRnya udh kelar blm? Apa lo gak lanjutin lg garagara keasikan nnton bola, makan mi ampe sewajan, trs ditambah nntnin org kerasukan? Ohiyak, boleh jg tuh klo msalnya PRnya blm slsai trs gurunya marah2, pura2 kerasukan aja... Kan ntr gurunya gak jadi marahin.. Wkwk.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya, dia kehausan lalu pergi ke warung beli kopi Cappucino.

      Hmmm... mau syuting acara masak, tuh :D

      Saran yang brilian, tapi sayang gue nggak bisa akting kesurupan. Masih dalam pembelajaran~

      Delete
  2. Kakeknya rese banget deh, udah mokat tapi masih bikin onar yg masih hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya dia pengin makan mi goreng deh~

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.