Kemerdekaan Untuk Orang Jelek

Semakin ke sini, yang namanya media sosial semakin menjamur. Nyaris semua orang punya Facebook. Yang belum punya Facebook, setelah membaca kalimat awal yang gue tulis, langsung ngebet minta buatin ke temannya. Ayolah, sekarang ini udah masuk zaman serba canggih. Masa akun Facebook pun nggak punya. Ketauan deh nggak pernah main Ninja Saga.

Untuk orang yang suka ber-media sosial, berfoto adalah ritual sakral yang harus dilakukan. Apapun kegiatannya, selfie-lah tujuan utamanya.

Misalnya, ada orang yang wisata ke Selandia Baru. Lalu, mereka nggak melupakan ritual utama makhluk (media) sosial. Yak, selfie. Dia upload ke Instagram. Di foto itu, ada satu orang dengan semangkuk bakso di meja dengan caption "Makan bakso kangguru Pakdhe Johnson dulu. Nyam~ - At Selandia Baru".

Seakan-akan dunia harus tau kalau Pakdhe Johnson udah buka kedai bakso di Selandia Baru.

Tadinya, gue agak sinis ngeliat orang yang dikit-dikit selfie. Gue selalu berpikiran "Ih, ini orang sombong banget sih. Tiap minggu upload fotonya pamer harta terus..."
Makin kesini, gue jadi sering upload foto. Kampret memang, gue jadi orang yang kecanduan foto. Untung nggak terlalu parah kecanduannya.

Sayangnya, kebiasaan gue meng-upload foto sering ditanggapi hinaan oleh teman atau followers (yang juga teman gue). Betapa jahatnya mereka menanggapi foto-foto gue. Tolong, kalian renungkan setelah melihat foto dan komentarnya.

HMMMM... SUDAH KUDUGAAH

Lawan dulu, nih, Robby junior.
Ganteng kan.... teman gue.

Perhatikan lingkaran merah. Jangan terkejut!


Versi Facebook

Andai ini Boyband, gue dapat bagian sebagai penonton bayaran.


Dari komentar yang gue dapatkan, gue menyimpulkan kalau gue... jelek. Entah gue yang terlalu sensitif, tapi nada komentar itu sangat-sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan. Orang lain boleh pamer harta, gue pamer... duh, kayaknya nggak ada yang layak dipamerin, deh.

Orang-orang selalu memandang kami--orang jelek-- dengan sebelah mata. Kita semua upload foto di socmed bukan mencari pujian, tapi agar mendapat pengakuan. Kita berjuang agar diakui sebagai manusia biasa. Manusia setuhnya. Tolong, bisa bedakan saat gue bercanda dan serius. Asegh.

Gue ingat, seorang Nelson Mandela memperjuangkan kaumnya--kaum kulit hitam-- untuk mendapat perlakuan yang sama dengan kaum kulit putih. Membaca kisahnya di sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia, gue jadi terinspirasi oleh beliau. Gue pun siap memperjuangkan kaum gue--orang jelek yang mau eksis di media sosial-- untuk merdeka dan mendapat perlakuan adil. Gue akan memproklamirkan sebuah pernyataan yang siap dibaca manusia di dunia. By the way, orang Kamerun ngerti nggak ya sama bahasa gue? Ya, semoga aja ngerti deh.

Proklamasi

Kami orang-orang jelek dengan ini menyatakan kemerdekaan. Hal-hal yang mengenai penghinaan di media sosial d.l.l, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.


Jakarta, Kalideres, 17 Agustus 2015
Atas nama orang jelek
Robby 'Brian' Haryanto

Seandainya Nelson Mandela melihat ini, dia pasti terharu dan bangga melihat perjuangan gue.

***

Beberapa hari yang lalu, gue baca di sebuah headline berita "Cowok dengan tampang pas-pasan bisa nikah sama cewek cantik".
Ada lagi, mungkin ada dari kita yang tau bahwa satu komika (sebutan untuk stand up comedian) Indonesia yang terkenal jelek punya pacar yang cantik. Ya benar, dia Yudha Keling. Yudha sering banget diomongin "Kok cewek cantik mau ya sama cowok kayak Yudha gitu?"

Ya..., terus, masalah? Mereka aja yang sirik. Bagi gue, ini sebuah prestasi di antara orang jelek. Akhirnya, ada seorang wakil dari kaum kami yang bisa mengguncang dunia. Merdekaaa!! 
Gue pun bertekad seperti kedua pantuan itu. Gue bakal menikah dengan... Patung Liberty. Eh, nggak deh. 
Kayaknya, cewek-cewek yang merasa cantik langsung menutup hati setelah membaca tulisan gue kali ini. Karena tau ada sebuah pergerakan underground dari orang-orang jelek. Dan akhirnya, orang jelek itu akan terus menjomblo sampai Patung Liberty minta dipijit pundaknya.

By the way, Patung Liberty itu cewek atau cowok ya?

Berbicara kemerdekaan, gue mau mengucapkan selamat ulang tahun ke-70 untuk negaraku tercinta, Indonesia. Semoga korupsi berkurang, kalau bisa musnah dari negeri ini. Dan, untuk orang-orang jelek dapat perlindungan hukum yang tegas. Asli, dikatain dengan sebutan hewan sangat menyakitkan bagi kami. Kita bukannya cengeng, cuma pengin dianggap manusia biasa. Udah itu aja.

Ayo, orang jelek berpartisipasilah dengan berkomentar di bawah. Dukung pergerakan kita untuk mendapat pengakuan di media sosial.

Semoga postingan kali ini nggak masuk hukum pidana...


11 komentar:

  1. haha :D bikin aja mas komunitas orang jelek :D haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, mbak masuk jadi anggota pertama, ya~

      Delete
  2. wanjrit, komentarnya bikin lu jadi gak kepedean yaa rob :D :D
    bikin komunitas orang jelek tapi isinya dengan orang-orang ganteng, biar lu ketularan gantengnya :D hahaha *peace :D

    ReplyDelete
  3. Patung Liberty transgender. Halah.

    Itu serius komentarnya ngatain lu hewan? Waduh, nggak nyangka temen lu sejahat itu. Kalo temen-temen gue mah jarang bercanda bawa-bawa fisik. Atau malah norak kalo masih nyela fisik. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak banget. Tukeran temen boleh nggak? :))

      Delete
  4. proklamasinya ngenes amat jadinya -__-
    ah, biasa itu mah. ngupload foto ke socmed, malah dikampret-kampretin followers..
    gue tau tuh kayaknya berita yang lo baca... yang di sumatera itu ya? yang nikah sama cewek inggris?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini terinpirasi dari lu juga, Jev. :))

      Emang, ya, sekarang lagi jamannya followers jahat. Jadi pengin nge-block akun mereka.

      Hmmm... gue lupa. Pokoknya pernah liat~

      Delete
  5. sabar gan, usia muda emang ladangnya diejekin sama cengcengin gitu. Tapi yah kalau keleatan berabe juga dong.

    Bang baiknya setelah ini buat teks proklamasi yang baru biar greget juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, gue mah sabar kok. Buat seru-seruan juga~

      Jangan dong, nanti gue dipenjara. Bisa berabe~

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.