Jumat Menggalaukan

Bagi sebagian orang, bertemu dengan hal baru rasanya sangat mudah dan cepat untuk menyesuaikan. Beda dengan sebagian lainnya yang harus berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa mengenali kebiasaan lingkungannya. Termasuk gue yang lambat dalam beradaptasi dengan hal baru. Gue baru bisa kenal dengan teman sekelas setelah sebulan bersama. Tapi, gue pernah kena karma akibat dari sifat buruk gue.


Waktu kelas 9, gue pernah mendengar ada seorang cewek yang sekelas dengan gue, bertanya ke temannya. "Robby itu yang mana sih orangnya?" Padahal, kita udah sekelas satu semester. 
Tapi kebiasaan buruk gue berkurang saat SMA. Puncaknya, tahun ini. Tahun ini, gue baru naik ke kelas 11. Semua teman baru, udah hampir semua gue kenal. Paling, ada satu anak yang nggak gue kenal. Namanya Robby Haryanto. Kalau ada yang tau, kasih tau di komentar ya!

Baru kali ini gue merasa yang namanya "pindah dari lingkungan baru itu nggak enak". Ceritanya berawal tadi siang.

Setelah sholat Jumat, masih ada pelajaran Matematika Peminatan. Selama pelajaran Matematika Peminatan berlangsung, ada momen yang berarti begitu dalam. Jadi ceritanya..., biar lebih mendalam, nanti aja gue ceritakan di post selanjutnya hehehe~

Singkat cerita, pelajaran Matematika Peminatan selesai. Setelah keluar kelas, gue nggak langsung pulang, tapi pergi ngikut Owi, teman gue, beli buku Matematika Peminatan yang disuruh Pak Maryana, guru Matematika Peminatan. (Nah, itu bagian dari spoiler).
Gue keluar menuju pintu belakang. Toko buku yang mau dituju jaraknya nggak jauh dari sekolah, dan perjalanan lebih cepat kalau lewat pintu belakang. Entah sihir apa yang dimiliki pintu itu, gue juga nggak tau. Kita ke toko nggak cuma berdua, tapi ada Oky yang udah nunggu sejak kelas gue belum keluar pulang. Niatnya mau ngajak gue pulang, tapi gue diajak mampir ke toko buku sama Owi. Ya, cuma dia yang paling sering ngajak gue pulang bareng. Terpaksa, Oky ngikut kita berdua.

Baru beberapa langkah keluar pintu, gue mendengar pengumuman kalau ekskul yang gue ikuti, KIR; Kelompok Ilmiah Remaja, ada kegiatan dan disuruh ngumpul di ruang 19. Gue yang niat awal mau ngikut Owi beli buku, terpaksa harus masuk lagi. Gue nggak enak kalau harus bolos KIR. Gue izin ke Owi, lalu gue balik lagi masuk ke sekolah.

Sampai di dekat ruang 19, gue melihat jemaah sholat Ashar udah banyak. Mendingan sholat dulu deh, lagian di ruang 19 masih sedikit orangnya, pikir gue. Gue memutuskan buat sholat Ashar terlebih dahulu.
Setelah sholat Ashar, gue melihat Owi dan Oky duduk di depan masjid. Gue tanya ke mereka, "Lu udah beli buku?" Tapi, kayaknya pertanyaan gue kurang tepat setelah melihat tangan Owi nggak membawa apapun. "Nggak ada, Rob." jawabnya singkat. Benar aja, buku yang dicontohkan Pak Maryana nggak ada di toko buku dekat sekolah gue. 

"Rob, lu nggak ngeliat pengumuman kelas? Diacak lagi tuh." kata Owi.
"Hah, emang udah diacak lagi?" gue kaget. "Ayoklah liat dulu." gue ngajak Owi dan Oky ke papan pengumuman kelas itu.
"Ayo." mereka kompak menjawab.

Gue masih dalam keadaan nyeker. Sebelum menuju papan pengumuman (sebenernya bukan papan. Cuma lemari kaca tempat nyimpan piala, terus dijadikan tempat nempelin kertas yang berisi pembagian kelas), gue pake sepatu untuk menghindari kemungkinan buruk yang bakal terjadi; kaki gue nginjek kotoran kucing. Sambil pake sepatu, gue berucap, "Ye ye ye, pindah kelas ini mah".

"Lu pindah kelas?" kata Racka, anak kelas sebelah yang kebetulan lagi duduk di sebelah gue. Dia salah tanggap, gue mengklarifikasi ucapan gue tadi. "Nggak sih. Gue cuma bercanda. Lagian gue juga belum ngeliat."

Sampai di sana, gue ngeliat kerumunan orang. Banyak banget yang ngeliat pembagian kelas. Gue memilih menyingkir sebentar. Gue yakin, kalau gue buka dagangan di situ, gue bisa kaya mendadak. Atau, kalau gue punya niat jahat, gue bisa jadikan ini ladang buat ngepet. Nggak mungkin, ya. Gue orang baik kok.

"Rob, lu sekelas lagi sama gua ha... ha... ha...," kata Giyats sambil tertawa menghampiri gue.
"Hah serius?" gue kaget penasaran.
"Iya, coba liat aja." 

For your information, Giyats adalah teman gue sewaktu kelas 10 dan kita terpisah saat kelas 11. Gue di 11 MIA 2, sedangkan Giyats ada di 11 MIA 3. Makanya, setelah Giyats ngomong begitu, gue kaget.

Gue makin penasaran. Tapi ngeliat kerumunan orang yang ngebet mau ngeliat nasibnya--pindah kelas atau tetap--, gue mengeluh.

"Anjrit, rame banget," kata gue. Lalu, tatapan gue kosong membayangkan hal lain. "Untung tadi gue udah pake sepatu. Kalo nggak pake, kaki gue udah jadi dendeng kali diinjek segitu banyak orang. Eh iya, di sini nggak ada tai kucing kan?" Dalam kondisi rame begini, gue sempet-sempetnya bisa melamun. Melamun jorok pula.

"Ah iya, mending buka grup line." kata Owi membuyarkan lamunan gue.

"Nah iya tuh." gue jawab singkat. Saking nafsunya mau ngeliat.

"Eh iya, kenapa nggak kepikiran dari tadi?" sambar Oky. Biar kesannya berpartisipasi.
 
Ternyata benar, ada yang nge-share foto kertas pembagian kelas di grup line yang isinya satu angkatan. Gue berpikir, buat apa mereka ngeliat di papan kalau ada di line? Cerdas juga pemikiran gue.

Owi mencoba melihat gambarnya. Tapi gambarnya samar. Malah gue nggak melihat sama sekali. "Ah udahlah. Liat di situ aja." kata Owi memerintahkan kita buat ngeliat ke papan. Gue dan Oky cuma bisa bilang, "Kampret! Itu masih rame."

Beruntung, saat kita semua ngeliat pembagian kelas, udah nggak banyak orang yang ngeliat. Gue langsung perhatikan ke papan, dan melihat kejanggalan terjadi. Tatapan gue terfokus ke deret kelas 11 MIA 2. "NGGAK ADA NAMA GUE!" kata gue berteriak. Gue perhatikan lagi, nama gue ada di kelas 11 MIA 1. Ternyata, apa yang Giyats bilang bener. Gue benar-benar pindah kelas. Gue ikutan tertawa.
Sebenarnya, gue agak kesal juga sekaligus menyesalkan kejadian ini. Kenapa omongan bercanda gue jadi benar kejadian begini? Padahal, cuma bercanda. Gue pulang. Gue jadi lupa segalanya. Gue nggak jadi KIR. Gue pulang sambil menggerutu sebagai bentuk protes.

Karena bagi gue, memulai hal yang baru setelah mendapat hal baru sangat nggak mengenakan. Contohnya, gue baru aja seminggu berada di kelas 11 MIA 2. Malah bisa jadi ketua kelas di hari kedua. Udah lumayan kenal sama beberapa teman, walau nggak semua.
Kelas 11 MIA 2 letaknya di lantai dua. Kelasnya menghadap ke arah kantin. Walaupun itu cuma kelas sementara, sebelum ada sistem moving class; pindah ruang kelas setiap berganti pelajaran. Di kelas itu, gue punya kebiasaan baru saat istirahat. Kebiasaan gue saat istirahat adalah menatap ke arah kantin dari besi pembatas, ngeliatin doi. Ibu-ibu kantin maksudnya.

Gue sedih harus melepas semua hal yang baru seminggu gue punya. Harus beda kelas dengan teman yang baru kenal seminggu. Melepas kebiasaan yang membuat gue lupa kalau gue sebenarnya punya phobia ketinggian. Dan masih banyak hal yang lainnya.

Mungkin, gue belum tentu bisa menemukan teman yang sama persis seperti di kelas 11 MIA 2. Kebiasaan-kebiasaan yang gue lakukan, belum tentu sama rasanya jika dilakukan di tempat lain. Bisa jadi, gue malah makin takut ketinggian. Entahlah.

Sekarang, waktunya gue beradaptasi kembali. Bertemu teman baru dan menemukan kebiasaan yang bisa membuat gue lupa phobia, termasuk phobia menerima lingkungan baru.

Anjrit, bisa juga ya gue bergalau-galauan? Jangan keterusan lah, malah nggak seru. Bener nggak? :)


6 komentar:

  1. Semua udah ada yang ngatur bro :D

    ReplyDelete
  2. Lu galau garagara sekelas sama gue kali Rob wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo! Kita sekelas lageeeh :))

      Delete
    2. Ketua kelas nya ada 2 deh dikelas gue wkwk

      Delete
    3. Mungkin ikut program KB, Kelas Berencana. Mottonya: dua ketua kelas sangat baik :))

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.