Ada Sesuatu di Rumahku!

Kemarin malam, ketika gue ngerjain PR sambil nyetel lagu Letto yang berjudul Ruang Rindu, gue mendengar suara aneh. Suara yang jarang gue dengar di rumah gue.

"Di daun yang itu... NGEONG... NGEONG... mengalir lembut... NGEONG... NGEONG... terbawa sungai ke ujung mata" begitulah suara yang gue dengar. Ternyata suara kucing. Gue pikir, suara kucing itu sumbernya dari luar rumah, ternyata suaranya makin terdengar.  Kayaknya, nggak jauh dari tempat tidur gue.

"Ma, kok ada suara kucing di sini, sih?" tanya gue ke Mama.
"Tuh, ada anak kucing di dalem lemari reyot." jawab Mama.
"Ha? Serius?"
"Beneran." Mama meyakinkan gue. "Baru ngelahirin kemarin. Liat aja coba."

Sejujurnya, gue nggak terlalu peduli. Tapi, penasaran gue memuncak malam ini. Gue tengok ke lemari yang Mama sebutkan tadi, dan gue kaget melihatnya.

Jangan berisik. Dedek kecil lagi bobok.

Uuuuuhhhh... lutuna~

Mau deh tidur bareng mereka.
Gue tau indukanya itu. Dia adalah kucing liar yang sering nongkrong di depan pintu rumah gue. Tiap gue duduk di depan rumah dan kebetulan ada kucing itu, dia langsung nyamperin kaki gue. Setau gue sih, kaki gue bau nasi basi. Kok doyan ya? Atau, si kucing emang suka makan nasi basi.

Gue kasian dengan kucing itu. Matanya buta satu, udah gitu nggak punya kartu KJS. Halaah.. pokoknya kasian deh. Gue pun nggak tau kucing itu jenis kelaminnya apa. Sebelumnya, gue nggak ngeliat perutnya membesar, seperti tanda-tanda hamil pada umumnya. Kalau misalnya kucing ini cewek, bisa kali gue gombalin.

"Hei, kucing. Bapak kamu tukang tambal ban, ya?"
"NGEONGGG!"
"Oh, bukan. Berarti, bapak kamu tukang kawin, ya? Makanya anaknya banyak"
"NGEONGG... NGEONGGG!!

Kemudian gue dicakar.

Tapi, kenapa harus di lemari rumah gue? Kenapa nggak nyari tempat yang lain? Atau, jangan-jangan kucing ini aborsi. Eh, nggak mungkin deh kayaknya. Masa iya lemari reyot gue dijadikan tempat praktek aborsi kucing.

Melihat anak-anak kucing itu, gue jadi pengin melihara mereka. Dari dulu, gue ngiri sama orang yang bisa melihara kucing bisa sampai dewasa. Kalau bisa, kucing itu dikuliahin sampai S3. Sedangkan gue, nggak jago melihara hewan. Melihara ikan cupang aja nggak bertahan dua minggu gara-gara sering diadu. Ehm.

Selain ikan cupang, gue pernah melihara burung dara. Waktu itu, gue emang lagi seneng banget sama burung dara. Menurut gue, burung dara itu nggak manja. Kalau mau pulang, tinggal terbang. Nggak perlu dianter, kayak cewek-cewek. Selain itu, dia hafal jalan pulang dan nggak pernah nanya ke mas-mas warkop atau tukang ojek Kan nggak mungkin ada burung dara nanya jalan.

"Kruk... krukk.... kruuuukkk..."
"Ngomong apa sih lu?"
"Kruukkk... kruukkk"
"Pergi lu!" tukang ojek nebar jagung ke jalan raya, lalu ada truk minyak ngebut melintas dan nabrak burung dara. Oke, gue lupa kalau burung dara itu punya sayap.

Gue minta ke Mama untuk memelihara kucing. "Ma, pelihara anak kucing itu, ya?"

"Janganlah, nanti kalo berak gimana? Emang mau tidur dengan aroma tai kucing?" Mama melarang.

Ada benernya juga. Gue nggak mungkin hidup bermalam dengan aroma tai kucing terus-terusan. 

Seandainya kucing ini diusir Mama, gue tetap yakin kalau misalnya anak-anak kucing ini udah besar nanti pasti bakal ke lemari reyot, tempat di mana mereka lahir. Mereka bakal ngelahirin anak-anak merea di lemari ini, dan lemari gue jadi rumah sakit bersalin kucing. Setelah sepuluh tahun, setiap minggunya bakal ada kucing yang lahiran. Kucing di rumah gue banyak, lalu gue jual ke Tiongkok untuk bahan masakan. Jahat, kan, sekarang kucing udah dijadikan makanan? Kalau penasaran, bisa googling deh beritanya.

Begitulah cerita gue malam ini. Inti cerita yang bisa kalian ambil adalah rusakilah lemari kalian biar ada kucing yang mau ngelahirin di lemari kalian. 

Meongg!

(Sorry, dibajak kucing)


9 komentar:

  1. hmm, tapi yang jadi pertanyaan, anak kucing itu bapaknya siapa ? *emot mikir* hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya itu. Masih jadi perdebatan WHO.

      Delete
  2. Ahh.. lutunaaa itu anak kucingnyaa :3 Biasanya emak2 kucing kalo abis beranak gtu suka sensian loh, hati2 aja. Gerak dikit aja lo bakal disangka mo ngambil anaknya, dih, pede amat tuh kucing-__-

    Gue jg gak dibolehin miara kucing, ribet kalo beol ama pipisnya.. Eh, gue jg kalo miara ikan cupang gak brthan lama, tp bkan gara2 sering diadu yak!._. Cupang emg cpet matinya sih. huuff..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, semua cewek ternyata sama aja, ya. Sensi banget deh.

      Itu kenapa cupangnya mati? Gara-gara nabrakin kepala ke kaca?

      Delete
  3. Punya niat gak masukin tuh anak kucing di Kartu Keluarga agan? hehe

    ReplyDelete
  4. Harus ditest DNA dulu buat cari tau siapa bapaknya, atau jangan-jangan Mas Robby sendiri si pelaku

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.