Ada Tawa Di Kamis Malam

Stand Up Comedy Indonesia sudah mencapai season 5. Kompetisi stand up comedy yang diselenggarakan Kompas TV. Bersamaan dengan diselenggarakannya pertama kali, itu artinya sudah 5 tahun ini stand up comedy berkembang dan populer di Indonesia. Gue senang bisa menjadi penonton komedi cerdas ini. Berawal dari seringnya nonton SUCI 2, yang saat itu cuma tayangan ulang setiap siang hari, gue mulai menyukai genre komedi yang satu ini. Lalu, gue mulai rutin nonton SUCI 4 dari audisi sampai David Nurbianto juara, walaupun cuma jadi penonton layar kaca.


Masih menjadi penonton layar kaca, gue juga mengikuti SUCI 5 dari audisi sampai Grand Final. Ada beberapa show yang gak gue tonton, tapi gue bayar lunas saat nonton re-runnya. Ya, gue gak pernah se-setia ini menjadi penonton acara tv.

Audisi SUCI 5 diadakan di beberapa kota di Indonesia. Di antaranya adalah Makassar, Pontianak, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Iya, dua kota terakhir abaikan saja. Masih dengan juri yang sama, yaitu Indro Warkop dan Raditya Dika sebagai juri di tahap audisi.

Di babak audisi, banyak peserta yang menarik perhatian. Di Surabaya, ada Dani, peserta yang sebelumnya ikut audisi SUCI 4 dan diundang menjadi bintang tamu saat Grand Final SUCI 4 karena dia memotivasi semua orang dengan ketidakmampuannya. Bukan berarti gagal masuk SUCI 4 dia langsung takut mencoba SUCI 5. Dani mencoba kembali, dan sukses mendapat golden ticket.
Ada juga hal baru yang hadir di SUCI 5. SUCI 5 kedatangan peserta kembar, yaitu Lukman dan Ludfi. Mereka tampil berdua saat audisi. Karena penampilannya memikat juri, mereka mendapat golden ticket.

Dari sekian banyaknya peserta di babak audisi, hanya dipilih 24 komika yang akan masuk ke babak Pre-show. Babak Pre-show dibagi menjadi dua. Dari kedua babak Pre-show nantinya hanya tersisa 14 komika yang akan masuk babak Show. Mereka di antaranya adalah


Di babak Pre-show 1 dan 2, keduabelas komika diberikan tema bebas dengan waktu 5 menit. Firman, Rizal, Yudha, Pawpao, Icky, dan Yoyo  langkahnya harus terhenti karena tidak lolos. Sedangkan di Pre-show 2, Gandhi, Lukman, Popon, dan Wahyu harus pulang lebih awal.

14 finalis yang sudah bertarung di babak Pre-show menyusul dua komika yang lebih dahulu masuk ke babak 16 besar, yaitu Dicky dan Ridho yang mendapat jatah tiket dari Liga Komunitas.

Komposisi juri masih sama seperti SUCI 4: Indro Warkop, Feni Rose, dan Raditya Dika. David yang tahun lalu menjuarai SUCI 4 menjadi host menenmani Pandji Pragiwaksono yang sebelumnya absen menjadi host karena world tour. Biasa lah, komika internasional.

Sama seperti SUCI 4, di SUCI 5 juga ada komika favorit tiap minggunya. Bedanya, kalau di SUCI 4 bisa memilih urutan tampil, sedangkan di SUCI 5 hanya bisa memilih menjadi opener (pembuka) atau headliner (penutup). Selain itu, di SUCI 4 pemilihan komika favorit melalui SMS, sedangkan di SUCI 5 menggunakan sistem vote di website kompas.tv/standupcomedy.

Beragam persona ada di finalis SUCI 5. Beberapa finalis menjadikan profesi sebagai bahan untuk penamipilannya. Misalnya, Rahman yang berprofesi sebagai cleaning service dan Tomy Babap yang berprofesi sebagai crew film. Selain profesi, daerah asal para komika juga diangkat sebagai materi. Rigen, sebagai orang Bima selalu membawakan bit tentang keadaan Bima dan pacuan kuda yang terkenal di sana. Afif, anak Betawi yang membawa keresahan warga Tanah Abang disetiap bit-nya. Lebih istimewa lagi dan yang paling mencolok, ada finalis penyandang disabilitas, yaitu Dani yang selalu membawa keresahan para disabilitas dengan sedikit karakternya yang "nakal".

Persona yang menarik lainnya adalah si anak STM, Rahmat Hidayat atau biasa disebut Rahmet. Rahmet terbilang muda di anatara finalis lainnya. Usianya baru 19 tahun, tetapi observasi materinya sudah setara dengan komika professional lainnya. Dia selalu membawakan cerita seputar anak STM. Didukung oleh semangatnya yang berapi-api khas anak muda, penampilannya selalu mendapat tawa dari penonton.

Yang paling mencuri perhatian adalah Indra Frimawan. Bit-bitnya yang pendek dengan twist yang sangat patah selalu membuat penonton gregetan dengan joke yang unpredictable.
By the way, banyak banget, lho, fansnya Indra. Sampai di blog gue pun, keyword Indra Frimawan menjadi paling tinggi dibanding dengan keyword pemilik blog-nya, Robby Haryanto. Nasib.

Di setiap musim, selalu ada pembeda dan menjadi menyegarkan. Tahun ini, SUCI 5 membuat Webseries yang berisi keseharian para komika. Di beberapa Show menjelang Grand Final, ada yang namanya juri keempat, yaitu juri yang berasal dari penonton. Caranya, dengan meng-upload video yang berisi komentar ke website stand up kompas tv. Selain adanya Webseries dan juri keempat, SUCI 5 juga menghadirkan improvisational comedy atau biasa disebut improv comedy. Para pemain akan bermain sketsa komedi dan mencari punchline bersama dengan sedikit persiapan. Yang gue tangkap dari sini adalah tim kreatif menginginkan para komika setelah selesai berkompetisi menjadi penghibur di segala kondisi dan minim persiapan.

Gue akan mengulas semuanya mulai dari Show 1 sampai Grand Final.

Show 1
Di show 1, para komika diberikan waktu 3 menit dengan tema Born To Be A Star. Di show 1, satu-satunya komika yang berasal dari Balikpapan, yaitu Baim harus close mic meninggalkan panggung SUCI 5.

Show 2
Show 2 peserta diberikan tema mengenai dangdut. Selama 3 menit, komika akan membahas seputar dangdut menurut sudut pandang mereka. Setelah semua tampil, akhirnya Ubai harus close mic karena LPM (laugh per minute) yang rendah.

Show 3
Show 3 kedatangan juri tamu, yaitu H. Bolot. Komentar-komentarnya yang gak nyambung menambah keseruan malam itu. Para komika diberi tema tentang idola. Ridho yang menjadi opener pada show itu harus close mic karena LPM-nya lebih rendah dibanding komika lainnya.

Show 4
Show 4 menjadi show yang paling berbau mistis karena para komika membahas mengenai mitos. Karena terganggu masalah kesehatan yang diderita, Kalis harus close mic di minggu keempat.
 
Show 5
Bertemakan sandiwara, para komika yang masih bertahan tampil dengan act out yang lucu. Sayangnya, Anjas yang meng-impersonate Presiden B.J Habibie harus close mic karena set materinya gak kompleks. (Begitu sih katanya, gue gak paham teknik stand up.)

Show 6
Tema motivasi menjadi topik bahasan para komika untuk menjadikan materi. Setelah minggu lalu Anjas harus close mic, di show 6 Rahman, finalis yang paling tua, harus close mic karena gak pakai teknik Callback yang seharusnya digunakan.

Show 7
Di Show 7, para komika harus bertarung dalam dua babak. Babak pertama yaitu battle antar komika dengan waktu selama 3 menit. Di babak kedua, mereka stand up dengan durasi 3 menit dengan tema bebas. Wira yang di babak pertama melawan Rahmet, melakukan perubahan persona menjadi emosional di babak kedua. Alhasil, penonton jarang tertawa dengan joke yang dibawakannya. Wira harus close mic di Show 7.

Show 8
Show 8 menjadi sebuah penyegaran. Karena ada babak yang bernama Roasting. Jadi, roasting adalah sebuah teknik dengan menjadikan orang lain sebagai materi. Di Show 8 ini, para komika menjadikan para juri sebagai materinya. Setiap komika harus me-roasting satu juri. Durasi tiap komika selama 5 menit.
Masing-masing komika memiliki teknik dalam meroasting. Ada yang elegant dan ada juga yang biasa. Tomy Babap yang saat itu me-roasting Indro Warkop harus close mic karena roastingnya gak se-elegan komika lainnya.

Show 9
Di Show 9, para komika tampil dalam dua babak. Babak pertama para komika bermain improv comedy dan mereka dibagi menjadi dua tim. Tim pertama berisikan Dicky, Afif, Dani, dan Rahmet. Tim kedua diisi oleh Indra, Rigen, Heri, dan Barry. Mereka juga kedatangan Asri Welas dan Sogi yang ikut bermain improv comedy. Di babak pertama, tim kedua menang. Tim pertama harus menjalani babak kedua dengan stand up yang diberi tema buruh dan diharuskan menggunakan teknik Impersonation. Yaitu teknik menirukan tingkah laku seseorang public figure atau orang yang mudah dikenali tingkah lakunya. Sayangnya, Dicky salah menggunakan teknik. Dia menirukan seorang wanita yang gak diketahui banyak orang. Dengan kata lain, Dicky harus close mic di Show 9.

Show 10
Di show 10 gak ada yang close mic, melainkan ada babak Callback. Babak Callback adalah babak yang memanggil kembali peserta yang sudah close mic untuk bisa berkompetisi kembali. Dari vote yang sudah dilakukan di website, terpilihlah Rahman, Wira, dan Kalis yang siap berjuang untuk bisa masuk 8 besar.
Ketujuh finalis lainnya juga tampil dengan membawakan tema persahabatan. Tapi yang jadi fokus adalah tiga finalis yang berjuang di babak Callback. Dari penilaian juri, akhirnya ditentukan kalau Kalis masuk kembali ke 8 besar.

Show 11
Show 11 menjadi spesial karena 8 besar SUCI 5 harus tampil di depan para tentara dalam Military Challenge. Ada dua babak. Babak pertama para finalis harus stand up di markas tentara dan di babak kedua mereka tampil di Balai Kartini. Setelah bertarung dua babak, tibalah pengumuman siapa yang akan close mic. Komika absurd dari Depok harus close mic di Show 11, yaitu Heri.

Show 12
Selain meroasting juri, SUCI 5 kali ini juga kedatangan Agung Hercules yang  dijadikan sebagai objek roasting para komika. Para komika tampil selama 7 menit. Semua tampil apik dalam meroasting Agung Hercules. Tapi, Barry menjadi peserta dengan jumlah tertawa paling rendah dibanding peserta lain. Barry harus close mic.

Show 13
Semakin ke sini, semakin sulit tantangan yang harus dihadapi para finalis. Di babak pertama, para komika bermain improv comedy dengan latar belakang rumah sakit. Lalu di babak kedua, dengan tema hidup sehat dengan durasi 7 menit. Konsentrasi komika bisa saja pecah karena kurang fokus. Begitulah yang terjadi pada Afif, komika asal Tanah Abang yang bermasalah dengan delivery dan susunan kalimat. Show 13 menjadi perjuangan terakhir Afif di panggung SUCI 5.

Show 14
Dua babak masing-masing babak berdurasi 5 menit. Babak pertama para komika diberi tema All about him self. Di babak kedua, para komika diberikan tema bebas dengan menggunakan teknik Callback. Di show 14, Kalis harus terhenti lagi perjuangannya setelah mendapat LPM terendah.

Show 15
Memeriahkan ulang tahun Jakarta ke-488, 4 besar SUCI 5 diberi tema tentang Jakarta. Selain itu, menyambut bulan suci Ramadan yang akan datang, mereka diberi tema mengenai puasa. Masing-masing babak diberikan waktu 4 menit.

Show 16
10 besar komika dikumpulkan dalam Show reuni 10 besar SUCI 5. Walaupun namanya 10 besar, tetapi jumlahnya ada 11. Itu karena Kalis, yang sudah close mic di Show 4 masuk babak Callback dan menjadi juara 5.
Delapan komika tampil (selain grand finalis) dengan tema Media karena bertepatan dengan ulang tahun Kompas TV yang ke-50. Para finalis juga bermain Improv comedy dengan 10 besar. Di malam itu, ada pemilihan Komika Persahabatan yang telah dipilih sebelumnya melalui vote di website Stand up Kompas TV. Terpilihlah Indra Frimawan menjadi komika persahabatan yang sebelumnya diraih oleh Hifdzi di SUCI 4.

Grand final
Berbeda dari Show biasanya, di Grand Final ada 3 host yang akan membawakan acara sampai selesai. Mereka adalah Pandji, David, dan si gendut Hifdzi. Kehadiran Hifdzi membuat suasana tambah lucu ketika di awal dia berpantun mengguakan bahasa Thailand. Gue ngakak dengan pantunnya Hifdzi itu.

Inilah 3 finalis yang tersisa untuk mendapatkan gelar juara SUCI 5 (dan menjadi host SUCI 6 tentunya)



Grand final SUCI musim ini berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Kalau kita tahu, musim sebelumnya Grand Final SUCI hanya ada 2 peserta. Tapi berbeda di SUCI 5 dengan 3 peserta yang masuk Grand Final.

Ada Rahmet yang memiliki kekuatan utama act out gokil dan cerita mengenai kehidupan di STM. Ada Indra, komika favorit gue ehehe, yang memiliki jokes one liner yang keren abis dan menghasilkan mind-blowing comedy. Lalu, rekan Indra di Stand up Indo Jakbar, Rigen yang punya story telling ciamik dan membawakan keresahan anak Bima yang merantau ke Jakarta dan hidup nge-kos. Mereka semua sudah berjuang selama 5 bulan lebih untuk mencapai titik puncak, yaitu Grand Final.

Di Grand Final, seperti biasanya komika harus stand up selama 7 menit dengan 3 babak. Babak pertama grand finalis stand up harus me-roasting para grand finalis lainnya. Babak kedua mereka harus stand up dengan properti/media seperti gambar, video, atau benda. Di babak pamungkas, komika harus stand up dengan tema juara dan menggunakan teknik Rule of Three, Impersonation, Riffing, Hackling handling. Ribet juga, ya tekniknya.

Di babak pertama, gue menilai Rigen lebih rileks dibanding yang lainnya. Terbukti dari awal sampai closing punchline penonton tertawa. Inilah keunggulan Rigen dalam teknik roasting.
Di babak kedua, gue menilai Rahmet lebih apik. Semua teman-teman yang pernah Rahmet ceritakan di bit-nya, ditampilkan secara nyata. Tervisualisasi dengan baik.
Babak ketiga, Rigen menggunakan semua teknik yang disyartakan dengan keren.

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, pengumuman juara akan disebutkan oleh Pandji Pragiwaksono. Dengan keputusan yang ketat, Pandji menyebut Rigen menjadi juara SUCI 5. Dengan demikian, Rigen akan menjadi host di SUCI 6.

Butuh acara yang menghibur sekaligus menginspirasi? #CARIDIKOMPASTV

Stand up comedy Indonesia, Let's Make Laugh.


4 komentar:

  1. Gokil reviewnya lengkap :))

    bisa jadi referensi buat ikutan ngereview SUCI 5 nih

    ReplyDelete
  2. Hahaha, niat. :)

    Gue kagak ngikutin dari awal. Habisan waktu itu kompas ilang dari tipi gue. Baru deh mulai ngikutin di Youtube.

    Malah gue kurang suka sama final SUCI 5. Kayak bukan final gitu. Entahlah. Rahmet bawa-bawa dukun dan demi Allah itu kayaknya kurang baik. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe :)

      Menurut gue, finalnya kurang greget. Lebih panas waktu 4 besar..

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.