Yaudah

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat. Gak heran, setiap kedatangannya selalu dinanti umat muslim. Orang-orang akan berlomba-lomba dalam beribadah. Sholat Tarawih, sedekah ke masjid, dan tidur seharian. Kan tidurnya orang puasa juga ibadah. Katanya, sih.

Tanggal 17 Juni kemarin, merupakan malam yang menggembirakan bagi umat islam. Karena malam itu, udah mulai sholat Tarawih. Udah jadi budaya di masyarakat kalau awal Ramadhan masjid selalu penuh dengan orang yang sholat Tarawih. Saking penuhnya, ada yang gelar koran di luar masjid. Ternyata, bukan lagi sholat Tarawih. Malah jualan serabi di luar masjid.

Di malam pertama itu, sangat beda dengan tahun sebelumnya. Gue lagi ada di Bekasi, di kontrakan kakak gue. Ini pertama kalinya gue sholat Tarawih di luar Jakarta. Menurut gue, ini sesuatu banget. Seketika gue merasa jadi musafir.
Malam itu, gue berangkat ke masjid bareng kakak gue. Sebelum masuk ke masjid, gue lepas sendal kesayangan gue. (Oke, gue yakin semua orang tau hal ini). Saat melepas sendal, gue punya feeling yang gak enak. Feeling gue mengatakan, "Gue gak mungkin nikah sama Park Shin Hye".
Ah.., pokoknya feeling gue buruk malam itu.

Selesai sholat Tarawih, gue keluar lewat pintu (Lagi, ini info yang semua orang tau). Sesuai dengan feeling gue, selesai sholat Tarawih, gue tengok ke tempat sendal dan gue gak ngeliat sendal kesayangan gue yang gue pake ke masjid. Merk sendalnya cavril (sengaja typo biar merk-nya gak ketauan).

Entah sendal gue yang bagus atau gue yang terlalu ganteng, tiba-tiba sendal gue hilang gitu aja. Menurut gue, ada salah satu jamaah yang sendalnya ketuker sama sendal gue. Atau ada orang yang sengaja punya pikiran, "Wah, ada sendal bagus. Ambil aja lah, lumayan buat lauk makan sahur." Atau lebih ekstrim lagi, ada mata-mata dari Jakarta memantau pergerakan gue, sampai akhirnya... hap... sendal gue hilang dibawa oleh mata-mata dari Jakarta. Ah, itu cuma khayalan gue. Gak boleh su'uzan, ini bulan Ramadhan.

Gue cari-cari, tetep gak ada. Gue cari di bawah motor orang gak ada, gue cari di bawah pohon tetep gak ada juga. Akhirnya, gue nangis dalam hati, "Tolong lah, saya di sini cuma musafir dari Jakarta. Masa saya harus kehilangan sendal kesayangan saya. Itu sendal pemberian.."

Gue pun pulang ke kontrakan kakak gue dengan keadaan nyeker. Naas. Gue tidur dan mencoba melupakan semuanya.

Bangun sahur, gue merenung dari kejadian semalam. Mungkin, ada hikmah yang gue dapat dari Ramadhan tahun ini. Sesuatu yang kita punya semua hanyalah titipan. Ada kalanya kita harus berpisah dengan sesuatu yang kita sayangi. Jika kita sayang terhadap sesuatu, kita pun harus menyiapkan mental kuat untuk persiapan kehilangannya. Dan, gue harus merelakan sendal cavril kesayangan berpindah ke lain kaki.
Selamat tinggal sendal cavril. Jasamu tak pernah ternilai oleh apapun. Walaupun pernah kena tai kucing, kau adalah sahabat kakiku. Sesuai dengan slogan produknya, Cavril, tetap yang terbaik.

Di waktu sahur, Mama gue nelepon kakak gue buat memastikan kedua anaknya udah bangun sahur atau belum. Mama gue gak mau jadi 'Mama-mama yang lain' yang disalahin anaknya gara-gara gak bangunin anaknya sahur. 

Suara seseorang terdengar dari seberang sana.

"By, udah bangun belum?" tanya Mama gue.

Gue yang masih dalam keadaan setengah sadar dan di hadapan sayur kangkung menjawab, "Udah, Ma," lalu gue menceritakan tentang sendal gue, "Ma, semalem pas tarawih sendalnya ilang."

Dengan santai, Mama gue menjawab, "Ya udah.."



6 komentar:

  1. haha, kirainnya mau di beliin lagi, tapi bilang gitu yaa :D :D haha, sabar yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar banget. Ini kan bulan Ramadhan :))

      Delete
  2. Ya udah, bisa dijaiin meme baru nih. Di dalamnya terkandung makna yang teramat sangat dalam

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.