UAS (Ujian Anak Selau) - 3 Juni 2015

Seperti yang gue bilang sebelumnya, minggu ini gue sedang menjalani UAS. Buat yang baca post sebelumnya, gue minta maaf kalau jadwal UAS yang sebenarnya adalah hari ini, bukan tanggal 1. Jadi, hari ini adalah hari pertama gue UAS. UAS-nya telat? Banget!

Niatnya, gue mau bikin tulisan setiap hari selama seminggu ini. Semacam laporan kegiatan ujian gue (Niat ini terpikir saat masa-masa kritis ngerjain soal menjelang 5 menit terakhir). Pasti seru kalau nantinya gue baca lagi dan gue bakal inget apa yang gue lakukan selama UAS. Yow, kita mulai saja.

***
3 Juni 2015



Hari ini,  ada 3 mata pelajaran yang diujikan. Semuanya termasuk pelarajan yang gue suka.

Pelajaran pertama: KIMIA

Sebelum ujian dimulai, seisi kelas dikejutkan dengan kedatangan dua pria ganteng. Bukan, yang masuk ke kelas gue bukan personil CJR, tapi dua orang pengawas yang juga sebagai guru di sekolah gue. Banyak yang heran kenapa ujian kali ini diawasi oleh dua pengawas (ganteng). Padahal, biasanya cuma satu pengawas. Bahkan, kadang ada pengawas, tapi kayak gak ada pengawas. Inilah Indonesia, pengawasan ujian pun gak ketat.

Apalah itu, langsung aja deh gue cerita.

Satu kata untuk ujian mata pelajaran Kimia: Kelabang!

(Iya, gue gak tau apa maksud dari kata-kata gue tadi) 

Gue nyaris gak menyelesaikan seluruh soal dengan waktu yang telah disediakan. Gue panik dan lupa rumus. Tapi, setelah gue bersemedi selama sejam, akhirnya bisa mengerjakan dengan lancar (Pantesan hampir gak nyeselain soal)
Dan juga, soal yang gue kerjakan tadi sangat beda jauh dengan contoh soal tahun kemarin yang gue pelajari. Biasanya, sih, soal tahun kemarin bakal sama dengan soal yang bakal diujikan tahun ini. Ternyata, nggak sama sekali. Sangat sangat kelabang.

Mata pelajaran selanjutnya: Kewarganegaraan

(Kalau gak tau apa itu Kewarganegaraan, pelajaran ini sama dengan PPKN atau PKn. Gue juga gak tau apa bedanya.)

Sebelum cerita ke masa-masa mengerjakan soal, gue intermezo dulu.

Malam sebelumnya, gue dilanda kebingungan amat besar. Gue bingung harus belajar apa karena saking besoknya ada 3 mata pelajaran yang diujikan. Ada Kimia, Kewarganegaraan, dan Ekonomi. Setelah mempertimbangkan untung-rugi, gue milih gak belajar semuanya, eh, gue gak belajar Kewarganegaraan.
Kebetulan hari itu ada pertandingan sepakbola SEA GAMES antara Indonesia vs Myanmar. Dengan alasan bela negara, gue lebih milih nonton timnas daripada belajar Kewarganegaraan. Dan kampretnya, Indonesia kalah 4-2. Sungguh, malam yang apes bagi Indonesia dan gue. Indonesia apes karena kalah, sedangkan gue apes karena gak belajar demi nonton bola. Sangat sangat kelabang.

***

Pagi harinya sebelum ulangan Kewarganegaraan....

"Bayang-bayangnya kembali muncul. Baunya kembali tercium. Apakah ini firasat kalau gue harus remedial Kewarganegaraan karena gak belajar semalam?"

Begitulah lamunan gue ketika duduk dan menghadapi kertas LJK kosong. "Errr...., masa iya sih gue udah kalah sebelum bertanding? Gue harus punya jiwa petarung." ucap gue dalam hati. Apapun yang terjadi, ini demi Indonesia! Merdeka! *terdengar lagu Maju Tak Gentar dari kejauhan*

WOW! Gak seperti yang gue bayangkan, soal Kewarganegaraan yang gue prediksi bakal bikin gue jadi siluman buku UUD 1945, ternyata gak susah. Gue dibantu oleh pilihan jawaban yang kadang bikin gue ketawa. Coba bayangkan, ada soal kurang lebih seperti ini...

Dasar negara Indonesia adalah...
A. Pancasila
B. Pancaindra
......

Belum sampai baca ke pilihan selanjutnya, gue langsung pilih jawaban yang kira-kira orang Thailand pun bisa jawab.

***

Ujian selanjutnya: Ekonomi (Lintas Minat)

Sesudah ujian Kewarganegaraan, gue bersiap untuk lanjut ke ujian mata pelajaran selanjutnya, yaitu Ekonomi. Gue jumawa dengan ujian Ekonomi kali ini karena cuma 1 bab yang diujikan. "Wow, gak terlalu sulit, nih." pikir gue.
Sebelum masuk ke jam ujian selanjutnya, kita dibebaskan memilih ruangan. Gue memilih tetep di kelas sebelumnya karena perpindahan adalah hal yang sulit (baca: males keluar kelas).

Beda dari dua ujian yang sebelumnya, kali ini ada anak kelas 11 yang mau ujian lintas minat Sosiologi. Jadinya nyampur ke kelas gue. So, gue yang tadinya duduk sendiri, sekarang harus duduk sebelahan dengan kakak kelas, Lumayanlah, bisa cuci mata..., di kamar mandi maksudnya. 

***

Ternyata, semua pelajar sama aja! suka nyontek kalau ujian. Gue paling panas kalau ngeliat orang nyontek saat ujian. Bukannya gue kesel karena gak dibagi contekan, tapi mereka gak ngehargain orang yang begadang demi belajar. Buktinya,  orang yang duduk di sebelah kanan-kiri gue. Keduanya cewek.
Dari sebelum mulai ujian, dia emang udah janjian bakal mau contek-contekan. Yang bikin kesel lagi, gue harus terlibat dalam aksi mereka. 

***
"Ssst.... sssst." suara bisik terdengar di sebelah kanan gue. Gue pura-pura gak denger.

"Ini pasti orang yang mau nyontek." batin gue.

"Heh...", dia manggil gue, lalu melanjutkan dengan menuliskan sebuah kata di kertas soalnya,

"Bilang ke sebelah lu, tanyain nomor 37, 38, 39."

Gue mikir apa yang harus gue lakukan.

"Tanya aja sendiri." gue menolak.

Usahanya buat nyontek gagal. Gue kasian dengan orang yang duduk disebelah gue dengan niat mau nyontek. Cantik-cantik, sih, nyontek. Pusing pala kelabang.

Entah gregetan atau apa, cewek yang duduk disebelah gue ini nusuk-nusuk tangan gue pake ujung tumpul pensil ke tangan gue. Gue tetep diem. Dua kali dia nusukin pensil ke tangan gue. Lalu dia menuliskan nomor di sebuah kertas buat dikasih ke orang yang disebelah kiri gue.

"Kasih ke sebelah, lu."

Bagaikan kurir kertas contekan, gue langsung mengiyakan dan memberi kertas itu ke orang yang ada di sebelah kiri gue sambil berharap pengawas gak ngeliat gue. Gue, orang asing yang berada di tengah-tengah cewek-cewek nyontek. Gregetan bet~
Gue kesel sama dua orang kakak kelas yang duduk di sebelah kanan dan kiri gue. Untung gak terlalu cakep, kalau cakep gue pacarin juga nih dua orang rese. Gue kalau kesel emang suka gitu, bawaannya pengen macarin orang~

***

Itu tentang orang nyontek di sebelah kanan-kiri gue. Lalu, bagaimana dengan nasib ujian Ekonomi gue? Ya, penuh hambatan. Ternyata satu bab pun susahnya ngelebihin dua pelajaran sebelumnya. Gue sangat kesulitan di pelajaran Ekonomi. Sesekali dalam kebingungan memilih jawaban, gue mengelus dada. Tentunya bukan dada orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri gue. Itu bahaya. 50% jawaban gue diperoleh dengan teknik. Biasalah, kalau orang udah mentok gak bisa mikir apa-apa, tang-ting-tung jadi pilihan terbaik.

Banyak juga nih cerita gue hari ini. Masih kesel sama dua orang tadi, mending gue tidur sore biar bisa belajar buat nanti malem. 

Tunggu laporan kegiatan ujian gue besok! Ciao!


0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.