01 June 2015

Harapan Orang tua Kepada Anaknya

Selamat Hari Kelahiran Pancasila dan selamat datang bulan Juni, bulan kelahiran blog gue. Yeeey! Tanggal 30 nanti, blog gue berumur setahun. Pastinya, dengan masih proses merangkak untuk belajar berjalan dan akan terus belajar agar bisa lari lebih cepat. Asikkk.


Siang hari ini, di perjalanan pulang sekolah, seperti biasanya di angkot, gue duduk bersebelahan dengan ibu-ibu (berarti ada dua ibu). Salah satu dari ibu tersebut, perawakan wajahnya oriental dan tidak terlalu tua, membawa tas dan sebuah buku. Gue menebak dia baru saja mengantar anaknya yang masih TK pulang sekolah, tapi gue gak melihat anaknya berada di sampingnya. Entahlah, namanya juga menebak. 
Di tengah perjalanan angkot, si Ibu membuka buku latihan anaknya yang dari tadi dia pegang sebelum masuk angkot. Gue kira Ibu ini baru aja pulang sekolah kejar paket C. Gue yang kepo mencoba ngintip buku yang si Ibu ini buka.  Terlihat ada huruf Mandarin dengan bentuk huruf yang khas buatan anak-anak. Mengsong-mengsong. Anehnya, ada angka-angka bagus, yang biasa disebut nilai, dalam bentuk huruf Mandarin yang mengsong-mengsong. 
Kalau gue pikir, "Masih mending anak ini bikin huruf Mandarin mengsong-mengsong, sedangkan gue? Sama sekali gak tau gimana bentuk huruf Mandarin." Satu-satunya kata yang gue tau dalam bahasa Mandarin adalah Wo Ai Ni. Iya, cuma itu doang. Dasar korban pacaran multi-bahasa.

Si Ibu membuka buku dan terdiam lama. Dia terdiam dan menutup wajah dengan buku latihan bahasa Mandarin anaknya tadi. Mungkin, di dalam diamnya, dia berdoa "Semoga kelak anakku bisa jadi orang yang sukses dan membanggakanku."


Lain lagi dengan ibu yang satunya. Ibu yang satunya ini membawa dua orang anak. Yang satu cowok dan satu lagi cewek. Salah satu anaknya, yang cowok, nempel-nempel ke gue dan sangat gak mengenakan sampai beberapa menit yang cukup lama. Gue sedikit terganggu dengan perlakuan makhluk kecil yang menggemaskan ini. Si Ibu yang ngeliat gue terganggu langsung....

PLAK

Si Ibu nabok tangan anaknya yang cowok. Sambil menabok, dia berkata, "Husssh, gak sopan begitu. Yang anteng, le." Dalam hati gue, "Nah, gitu dong, bu. Ganggu banget nih anak lu."
 
***

Dari tindakan si Ibu yang kedua, gue pun pernah merasakannya. Saat itu, ada mama gue lagi ngobrol sama bapak gue. Obrolannya cukup serius dan memang khusus obrolan orang dewasa. Gue yang masih umur 4 tahun gak sengaja mendengar ucapan mereka berdua terlalu dalam. Alhasil, sebagai anak yang polos, gue menyambar perkataan mama gue. Seketika itu, mulut gue ditutup dengan tangan mama gue, lalu berkata, "Kalo orangtua lagi ngomong, jangan ikut-ikutan atau nguping. Masih kecil, belum saatnya. Gak sopan."

Mama gue sudah mengajarkan attitude baik sejak kecil. Mama gue, dan orang tua pada umumnya, pasti menginginkan anak yang punya tingkah laku baik. Untuk itu, wajib mendidik anaknya sejak kecil. Kalau ada seorang anak yang sudah beranjak dewasa gak punya tingkah laku yang baik, perlu dipertanyaakan didikan orang tuanya. 

*** 

"Kalo kamu udah besar dan sukses, keinginan mama cuma satu: yang penting inget Allah dan inget orang yang pernah membesarkan kamu."

Begitulah kata mama gue saat kecil dulu. Keinginan yang mungkin sederhana, tapi belum tentu bisa dilakukan. Kadang ada orang yang udah sukses dalam segala hal, tapi malah melupakan orang-orang yang udah bikin dia sukses, termasuk orang tua. Ada lagi yang lebih kasihan. Udah sukses dalam segala hal, tapi orang tuanya udah gak ada.


***
 
Sebenarnya, harapan orang tua sangatlah sederhana: melihat anaknya bahagia.

Lalu pertanyaannya, saat kita bahagia, apakah kita sudah berbagi kebahagiaan kepada orang tua kita?

Jawabannya, tergantung didikan orang tua. Apakah si anak diajarkan untuk bersyukur atau tidak. Karena berbagi kebahagiaan adalah cara mensyukuri nikmat berbahagia.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.