Untuk Orang Yang Pergi

thumbnail-cadangan
Sore ini, aku iseng buka kotak masuk, sambil berharap ada satu pesan dari seseorang yang biasanya memberikan senyuman sepanjang hari. Tidak lama selesai aku berharap, tiba-tiba ponselku keluar pemberitahuan ada seseorang mengirim pesan. Dan pengirimnya: Kamu

'Aku mau ngomong'

Aku deg-degan untuk menanti apa yang ingin kamu bicarakan. Aku menebak-nebak kalau kamu ingin mengatakan: 'Aku punya berita bagus nih. Aku dapat nilai ulangan 90', ' Kamu tau gak? Ternyata aku terpilih jadi pengurus OSIS yang baru di sekolahku' atau 'Aku seneng banget semalem tim sepakbola favoritku menang'.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku buka kotak masuk

'Aku mau hubungan kita selesai sampai disini'

Berharap kamu mau memberi sesuatu yang menyenangkan, malah sesuatu yang gak mengenakkan. Ternyata kotak masuk berisi kabar yang membuat hati ini tertusuk.

Seketika tak percaya, aku bertanya-tanya. Apa ini cuma mimpi? Apa ini cuma imajinasi? Ternyata, ini benar terjadi.

Pergi, tanpa peduli rasa sakit ini

Aku bingung harus apa. Karena aku seorang pecandu kopi, aku menyeduh kopi hitam. Setidaknya aku bisa merasakan kalau ada yang lebih pahit dari kata perpisahan dari orang tersayang. Selesai membuat kopi, aku termenung menatap gelas berisi kopi hitam ini karena kopi ini terlalu panas dan sambil sesekali melihat kenyataan yang pahit dan kelam bagai air kopi ini. Kopi panas memang bisa membuat bibir melepuh, tapi patah hati bisa membuat segalanya runtuh.

Termenung lama akhirnya aku minum kopiku sampai habis tanpa sisa agar aku terlatih dan terbiasa menghadapi segalanya yang pahit dengan senyuman. Setelah habis aku baru menyadari kalau kopiku tak terasa pahit, melainkan asin. Bukan karena aku meneteskan air mata di kopiku, tapi aku tak sengaja memasukan garam di kopiku. Aku buta karena cinta.

Selesai menikmati kopi, aku meghibur diri dengan bernyanyi salah satu lagu dari H. Rhoma Irama

'Pertemuan yang kuimpikan, ternyata cuma khayalan'

Liriknya terdengar seperti itu. Persis apa yang tengah aku rasakan. Padahal liriknya bukan seperti itu. Bukan liriknya yang salah, aku yang salah tak bisa melupakan dirinya. Begitu kata kamu.

Bukan maksudku begitu. Tapi itu hanya salah paham. Mungkin kamu terbawa emosi. Menganggapku belum bisa lepas dari kenangannya. Padahal aku sudah lupakan kenangannya berkat seseorang, yaitu kamu.

Mengapa kamu pergi? Mengapa ini terlalu cepat terjadi?

Hei, jawab aku. Apanya dari kita yang salah. Apanya yang terlihat berbeda. Bisakah kita perbaiki bersama. Tapi sepertinya sulit karena kau tak kuasa.

Aku bingung. Aku lemah. Aku belum siap kalau kamu pergi meninggalkan aku yang tengah naik bersama khayalan tingkat tinggi. Karena terlalu tinggi, jadinya terasa sakit saat dijatuhkan. Sama sakitnya dengan kalimat perpisahan yang kau lontarkan. 'Aku mau kita selesai sampai disini'.

Ini sudah terjadi dan kau pun sudah bulat untuk pergi. Aku harap kamu masih punya rasa kasihan kepada aku yang terlanjur mencintaimu.
Jika itu tidak mem  aku juga harus pergi. Meninggalkan orang yang selama ini aku anggap sebagai 'teman hati'. Entah berapa lama aku bisa pergi darimu. Seminggu? Sebulan? Setahun? Sampai ajal datang? Entahlah

Sekarang kau bebas mau pergi kemanapun. Tapi percayalah padaku, kembalilah kesini saat kamu butuh aku menjadi teman hatimu.

Pergilah dan kembalilah. Aku disini masih berharap kamu mau putar haluan.

Untuk orang yang pergi.


4 komentar:

  1. Dia pergi karena ia memang gak baik buat kamu. Yakin deh, pasti ada 'dia' yang lain yg lebih baik untuk kamu miliki :)
    :)

    ReplyDelete
  2. Dibalik perginya dia, ada dia yang lain yang sedang dipersiapkan untukmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, gak usah disesali sampai mati. Karena masih ada penggantinya. Makasih

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.