21 April 2015

Hantunya Pelajar: Nilai Buruk

Selamat malam para pejuang masa kini dan nanti. Yang masih menanti tambatan hati kapan datang menghampiri. Aku masih disini menunggumu dalam sepi, sambil menyantap segelas pop mie dan minum teh sisri. Yeaah, kamu masih jadi orang yang kunanti, wahai tukang pandai besi.
Selamat memperingati Hari kelahiran R.A Kartini. Semangat emansipasi terus tertancap dalam hati untuk para pemuda-pemudi.

Ceritanya biar keren gitu belakangnya I semua.

Gue memulai sebuah paragraf dengan kalimat-kalimat yang cukup membingungkan. Oke, sekarang gak usah bingung lagi kenapa ada banyak layangan nyangkut di tiang listrik. Gue juga bingung. Pokoknya hari ini kita memperingati hari lahir pahlawan wanita Indonesia, R.A Kartini.

Uhmm.. gue bingung mau mulai dari mana. Oh iya, sekarang adalah hari Selasa. Pasti tau kan apa yang ada di hari Selasa di blog gue. Dan untuk mengingatkan para pembaca, tulisan rutin ini udah masuk minggu kesebelas dan bakal jadi tulisan yang kesepuluh dalam blog gue. Tepuk tangan boleh. Tapi jangan tepuk layar handphone/PC. Bahaya bisa rusak.

Kali ini, gue akan membahas tentang hantunya sebagian pelajar, yaitu nilai buruk. Kenapa gue bilang sebagian? Karena ada sebagian lain yang menganggap nilai bukanlah segalanya dan tidak berpengaruh pada prestasi. Bagi gue, nilai sangatlah berpengaruh pada seberapa suksesnya seorang pelajar dalam kegiatan belajarnya. Mungkin untuk menilai seberapa suksesnya, gak cuma dilihat dari 1-2 nilai ulangannya, tapi nilai rapornya. Asik, gue udah kayak orang yang paling ngerti psikologis pelajar. Namanya juga opini, mas. Bisa bener, bisa juga kurang tepat.

Kalau pelajar udah dapat nilai jelek, gue bisa menyimpulkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pelajar dapat nilai buruk.

1. Gak beruntung
Namanya juga manusia, gak selamanya dia untung terus. Kan pepatah pernah bilang Hidup selalu berputar bagai roda. Kadang harus nginjek paku, tai kucing, ngelewatin kubangan, atau dibakar para demonstran. Tinggal kitanya aja kuat atau gak dalam bertahan menghadapi perputaran
Begitu juga dalam nilai, kadang gak selalu pelajar dapat nilai 100. Bisa jadi minggu depannya dia dapat 100 juga dan minggu depannya dia dapat nilai 80 dengan intensitas belajar yang sama. Ini keputusan takdir.

2. Gak belajar
Kalau dapat nilai jelek karena gak belajar, ini bukan takdir, tapi nasib. Kalau nasib kan bisa diubah, dengan cara... tukar nasib. Eh salah, maksudnya berusaha. Usahanya dengan belajar dan diakhiri dengan doa. Bertawakal.
Bukan berarti namanya usaha, terus bisa seenaknya nyewa joki ujian dan dapat nilai bagus. Itu gak fair, guys

3. Gak nyambung
Usaha dan berdoa plus keberuntungan itu perlu, tapi jangan jadi orang sok rajin juga. Misalnya, gue mau ulangan matematika. Udah belajar sampe tengah malem, ternyata nilainya tetep gak bagus. Setelah diselidiki, gue belajar soal olimpiade matematika tingkat Kabupaten. Kan dodol.

Yang membuat pelajar takut dengan nilai buruk adalah mereka bakal merasa tekanan besar. Bukan pada guru, melainkan dengan orangtua mereka. Gue yakin masih ada beberapa keluarga yang berpedoman pada prinsip Kalau gak dapat nilai bagus, kena hantam. Masih ada lho walaupun ini cara jaman kolonial. Eh, gue gak tau juga deh. Gue belum pernah denger kalau Daendels digebukin mamanya karena nilai Fisikanya jeblok.

Harusnya, orangtua macam ini makin berkurang. Mereka harus tau bagaimana kondisi anaknya yang bisa jadi stres duluan di sekolah. Belum lagi kalau dibully teman sekelasnya, lalu kena hantam di rumahnya. Kan kasian. Tolonglah pak, bu, kasian anaknya.

Tapi gue gak bilang semua keluarga begitu. Kalaupun ada, di keluarga itu ada orang yang sangat bijak dan punya jiwa yang putih, seputih So Klin pemutih. Biasanya ibu yang begitu dan itulah ibu yang jadi idaman. Kalau anak kena omel bapaknya karena nilai jelek, sang ibu bakal meredakan emosi dalam keluarga. Misalnya ada peristiwa gini:

'Kamu sih, beli permen sembarangan'
'Ini bukan permen sembarangan. Ini permen Milkiteh'

Oh sorry, salah adegan. Yang bener gini:

Malam hari saat perkumpulan keluarga, sang bapak sedang memegang kertas ulangan Termos (sebut saja untuk nama si anak).  Merasa kecewa atau apa, langsung si bapak marah besar. 
'Kamu ini, nilai gak pernah bagus. Kemarin ulangan Kimia dapet 80, sekarang turun jadi 78. Usahain dong dapat 90. Gimana sih? Kerjaannya baca buku terus, gak pernah main hape. Pokoknya besok semua buku papa sita!'

Lalu datang sang bidadari penyelamat (baca: ibu tercinta). Sang bidadari menghampiri si bapak dan meredakan emosinya.
'Pa, jangan gitulah. Anakmu ini udah usaha susah payah sampai tidur malam. Kadang belajar sampai pagi juga, malah sampai lupa sekolah. Nilai 78 kan masih gak terlalu buruk. Lagian ini juga yang pertama kalinya dia dapat nilai 78.' sang istri menjelaskan dan menambahkan, 'Oh iya, papa gak capek kan? Kita main yuk. Termos minta adik tuh'

'Wah, masa sih? OKE, kita main malam ini. Kita cari dispenser buat adik si termos yang baru. Ayo, tunggu apalagi. Kita ke toko elektronik'

Sihir Ibu tiada tara. Ngalahain mantranya Master Tarno.

Sekian tulisan gue yang mutunya tak sehangat air termos atau dispenser. Tapi yakinlah setelah membaca tulisan gue kali ini, kalau nilai buruk bukan akhir dari segalanya.

Salam hangat sehangat air termos.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.